Tak Mudah

Meredam amarah tak semudah yang aku bayangkan. Seringkali emosi memuncak saat tak kusadari bahwa emosi sedang meluap. Aku baru menyadari hal itu disaat semuanya hampir terlambat. Emosi tak terkendali, kata-kata meluncur tanpa sempat teredit, nada suara diatas sewajarnya, bahkan wajah memanas seolah-olah akan terbakar.

It happen to me all the time. Di saat hal itu terjadi, seringkali ada orang lain yang terluka diakibatkan kata yang tak sepantasnya diucapkan. Ada rasa sedih disebabkan nada suara yang jauh melompat beberapa oktaf.

Aku tahu disaat semuanya terlanjur terjadi hanya kata maaf yang dapat mencairkan ketegangan. Maaf yang tulus dari lubuk hati sepatutnya mampu melegakan sesak di dada. Namun hal itu sungguh sulit dilakukan bila emosi dan ego masih betah bertengger di kepala. Meski kutau itulah satu-satunya penawar ketegangan. Namun jika hati masih panas, butuh beberapa saat, bahkan mungkin beberapa hari untuk melenyapkannya.

Iklan
Published in: on 18 Januari 2010 at 5:27 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Hargai Orang Lain yang Datang Tepat Waktu

Hatiku kesal bukan main. Sewajarnyalah aku mengeluh jika ada karyawan yang datang terlambat. Sebab aku yang setiap pagi harus berjuang melawan rasa malas dan rasa kantuk, bersikeras menerjang cuaca yang kurang bersahabat, dan berusaha menerobos macetnya kota Makassar di pagi hari hanya agar dapat tiba di kantor tepat waktu.

Aku bukan mereka yang lebih senang datang terlambat dengan berbagai alasan. Semalam tidurnya telat, bangun juga telat, pagi-pagi harus mengantar ibu, ada jadwal mengaji di pagi hari, belum sempat mandi, dan bla bla bla seribu macam alasan. That’s okay jika kalian berani jujur datang terlambat dengan daftar absen yang terlambat pula. Tapi bagaimana jika kalian curang ? Berlaku curang dengan memanipulasi data di daftar absensi sama halnya bahwa kalian tidak menghargai karyawan lain yang telah susah payah tiba di kantor tepat waktu.

Aku bukan tipe orang yang menghargai waktu. Tapi untuk datang tepat waktu, itu sudah menjadi keharusan. Aku membiasakan diri datang lebih awal bukan karena aku diberi tanggung jawab untuk memegang kunci pintu di kantor. Melainkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan berusaha menghargai orang lain yang juga terbiasa datang lebih awal.

Published in: on 13 Januari 2010 at 8:28 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Birthday Present

I bought this keyboard for him as his birthday present. It’s a Logitech Media Keyboard. I hope he likes it. Memang bukan sebuah kado yang mewah, tapi dibalik ketulusan memberikannya kuharap sebuah keikhlasan sang penerima untuk memanfaatkannya.



Published in: on 11 Januari 2010 at 6:10 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Inci si Kelinci

2 bulan yang lalu aku membeli seekor kelinci jantan. Diberi nama Inci dari dasar kata Kelinci. Umurnya kira-kira baru sebulan. Mukanya lucu sekali. Warna bulunya putih abu-abu. Yang membuatku falling in love at first sight itu karena telinganya. Telinga kiri warna putih, telinga kanan abu-abu.

Awalnya mau beli sepasang, jantan dan betina. Berharap suatu saat nanti ia bisa berkembang biak. Tapi berhubung baru pertama kali ini coba memelihara kelinci, jadinya cuma membeli satu ekor dulu. Takut nanti kelincinya tak terawat dengan baik. Kasihan kan kalau baru dirawat seminggu lantas mati. Masalahnya kelinci itu hewan yang sangat sensitif. Mudah stres dan masuk angin. Untuk itu butuh perhatian ekstra untuk dapat menjadikannya hewan peliharaan.

Benar-benar beruntung karena kelinci satu ini tidak rewel. Selalu sehat, nafsu makannya juga sangat besar. Bahkan bisa dikatakan rakus. Makannya tak pernah berhenti. Sampai-sampai tetangga depan rumah yang ikut-ikutan memelihara kelinci berpikir bahwa si kelinci diberi vitamin penambah nafsu makan.

Tapi itulah sifat dasar kelinci. Doyan makan. Makanya cepat gendut. 🙂 Syukur alhamdulillah jika kelinciku rakus. Itu artinya dia sehat. Tapi konsekuensinya adalah buang airnya itu. Pipisnya bisa sampai 3 kali sekali pipis. Itupun pipisnya tiap sejam sekali. Jika mau pipis, si kelinci berputar-putar dulu di pinggir keranjangnya sambil menyudutkan bokong. Mencari posisi yang pas dulu kali ya. Setelah pipis pertama, si kelinci akan memutar bokongnya lagi ke sisi lain lalu pipis, setelah pipis kedua, ia memutar bokongnya lalu pipis lagi. Tingkahnya lucu sekali.

Bahagia rasanya jika melihat si kelinci berlarian kesana kemari, berloncat-loncatan dan berdiri dengan dua kaki belakangnya. Jika minta makan, dia akan berdiri menggapai-gapai seseorang di dekatnya yang sedang duduk atau memegang sesuatu. Jika ada yang sedang menelepon, si kelinci juga ikut mencari perhatian dengan memanjat dan duduk di pangkuan. Semua tingkah dan kelucuannya selalu saja membawa kehangatan di dalam rumah.


Published in: on 6 Januari 2010 at 9:00 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

I’m Not Facebook Addicted

Yes … I’m not a facebook addicted. Di saat orang-orang sibuk ngomongin jumlah teman di account facebooknya, aku dengan santai dan gak peduli malah ngomongin jumlah floating loss di account masterforex-ku. Di saat teman-teman bertanya alamat facebook, aku dengan bloon, ngomong kalo nggak punya alamat facebook. Keliatan deh tuh mukanya berkerut seakan berkata “Hare gene, gak punya facebook ? Helloooo, dari mana aja lo ?”

Gak nyalahin mereka sih. Facebook dan semacamnya emang lagi trend. Kalo mau dibilang gaul, mesti dan wajib punya facebook. Tapi aku emang buka tipe orang yang suka ikut-ikutan. Orang lain punya ini, belum tentu aku harus punya. Orang lain pake ini, belum tentu aku bakalan pake juga. Orang lain beli ini, belum tentu aku mesti beli juga kan ?

Sampai detik kemarin aku masih keukeh gak mau buka account facebook. Tapi setelah nonton Oprah sabtu kemarin, pertahananku luntur. Jadi pengen punya account facebook juga. Soalnya Oprah juga punya facebook. Kayaknya asik kalo bisa update The Oprah Show kapan aja. That’s because I love Oprah winfrey and her show.

So guys, would you please help me answer this question.

Should I have a facebook account ???

Published in: on 5 Januari 2010 at 10:41 pm  Comments (2)