Memilih Untuk …

“Dunia Pararel” milik Micki Mahendra menyadarkanku bahwa tak selamanya apa yang kita rasakan adalah rasa yang kita inginkan. Buku setebal 179 halaman ini mampu menghapus sedikit rasa bersalah dalam hatiku.

Buku yang awalnya tak akan kulirik sedikitpun bila melihatnya terpajang di toko buku karena pemilihan judul yang sungguh tak menarik minatku. Buku yang tak akan ada rasa penasaran untuk membaca resensinya bila melihat jumlah halaman buku yang kupikir akan habis terbaca hanya dalam waktu 2 jam. Buku yang ternyata … ah … menggelitik rasa kelegaanku.

Tak ada yang salah denganku. Aku telah berbuat semampuku untuk mengubur rasa dan kisah itu dalam-dalam. Menguncinya rapat-rapat dalam sudut hati terkelam dan tak sedikitpun hasrat untuk menguaknya di masa nanti.

Tapi apa yang terjadi. Rasa itu kembali. Entah dari mana asalnya. Apakah dari sumber terbesar yaitu diriku sendiri ? Ataukah rasa itu muncul dari sudut hati terkelam tempatku menyembunyikannya ? Mungkin selama rentang waktu beberapa tahun ini ia tumbuh dan berkembang tanpa aku sadari. Dan ruang sempit itu tak mampu lagi menampungnya hingga ia ingin berhamburan keluar.

Sosoknya muncul kembali. Tanpa lupa membawa rasa yang sama seperti saat kami masih bersama. Tetapi tidak, aku tak ingin ia muncul kembali. Tidak setelah lebih dari setahun kami hilang kontak. Tidak setelah aku telah berusaha mati-matian untuk tidak menghadirkannya, baik itu sosok ataupun rasa yang dibawanya serta. Rasa yang dulu sempat kurasakan indah, namun membiusku pada akhirnya.

Kadang-kadang bukan kita yang menentukan perasaan kita tapi kita dapat mengatur apa yang kita lakukan terhadap perasaan kita. Hal inilah yang paling penting”. Memilih untuk membiarkan rasa itu tetap tumbuh namun dengan akibat yang menyakiti hati orang lain. Atau memilih untuk melenyapkan rasa itu dan menjalani kisah hidup lain dengan sosok yang jauh lebih baik.

“I prefer to choose the last option”.

Iklan
Published in: on 27 Agustus 2009 at 10:21 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Pantaskah bila aku curiga saat ia mulai berubah

Bila dikatakan perubahan yang cukup drastis sebenarnya tidak juga. Hanya saja ada sedikit atau satu kebiasaan yang mulai berubah dan membuatku merasa sepertinya ada sesuatu yang berbeda.

Masalahnya ada pada handphonenya yang saat ini tak pernah lagi disimpannya sembarangan. Padahal dulunya selalu ia letakkan di atas meja. Atau paling tidak diletakkannya di atas pembaringan. Namun saat ini hampir tak pernah lagi ia membiarkan handphonenya tergeletak begitu saja . Tidak sekalipun aku melihat ia dengan sengaja meletakkannya di atas meja atau di sembarang tempat yang mudah aku temukan.

Pikiran jahat mulai membiusku. Ada apa ? Apa ia tak ingin aku ngutak-atik handphonenya ? Atau ia tak mau aku tau sesuatu yang tersimpan di dalamnya ? Sebab aku merasa jika tak ada sesuatu yang rahasia, maka tak perlu ada sesuatu yang disembunyikan.

Bagaimana dengan beberapa telepon masuk di handphonenya yang tak pernah ia angkat bila ada aku disampingnya ? Apa ini termasuk sesuatu yang ia sembunyikan dariku ? Beberapa kali aku dapati handphonenya berkedap-kedip minta dijawab, namun tak sedikitpun ia bergeming untuk meraihnya. Ia hanya sekedar melirikkan mata melihat nama yang tertera disana dan ia kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa memerdulikan nada getar di ponsel itu.

Kalau saja aku kenal dengan nama pemilik nomor handphone itu, aku tak akan merasa sepenasaran ini. Jika saja aku tau orang yang menelepon itu benar-benar orang yang kurang kerjaan yang sukanya miskol tanpa sebab, aku tak akan merasa segelisah ini.

Namun bila memang benar ada beberapa nomor yang seringkali iseng melakukan itu dan ia benar merasa terganggu hingga lebih memilih untuk mengacuhkannya, lantas mengapa nomor itu tak ia masukkan saja ke dalam daftar hitam.. Toh ia bukan tipe orang yang gagap teknologi hingga melewatkan fasilitas itu. Toh handphonenya juga bukan tipe ponsel murahan hingga tak tau ia memiliki kekuasaan untuk melakukan itu.

Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku ? Atau mungkinkah ini hanya perasaanku saja ?

I really hope this is just my bad feeling. I trust him so much as much I love him.

Published in: on 12 Agustus 2009 at 9:26 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ada Komen Baru Gak Ya ?

Tiap kali buka dasbor, biasanya aku liat halaman stat dan komentar dulu. Hari ini ada komen apa, atau ada berapa orang yang udah ngintip blog ini. Dari awal blog ini ada, yang komen disini dikit banget. Ya wajar aja. topiknya nggak ada yang menarik. Heheh.

But anyway, biar nggak menarik yang penting tetap eksis kan ? Huahaha … maksa amat. Emang aku nyadar banget kalo tulisan-tulisan aku disini itu nggak untuk bikin orang bisa melirik dan seterusnya mampir. Soalnya nggak ada sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka untuk sering mampir kesini. Disini nggak ada info, tips, ramalan bintang, atau bahkan gosip artis :). Kalo ngegosipin diri sendiri sih iya. Heheh.

Emang nggak bisa dipungkiri kalo komen itu punya pengaruh dalam semangat menulis. Rasanya nggak sia-sia nulis banyak hal yang menguras tenaga dan inspirasi kalo ada yang bisa nanggapin. Entah itu tanggapannya baik ataupun buruk. Namun setidaknya ada satu atau dua pendapat yang bisa dijadiin acuan tentang kualitas tulisan ataupun kualitas topik. Jadinya ada feed back atau timbal balik, dan nggak jadi semacam komunikasi satu arah aja.

Biasanya jumlah komentar akan menjadi bukti kepopuleran sebuah blog. Kalo banyak yang ngefans ama isi blog atau pembuatnya, biasanya bakalan banyak yang mengunjungi dan ngasih komen.

Jadi blog aku nggak populer dong. Wah … payah ! Di dunia real dan di dunia maya aku sama nggak populernya. Hihihi … tapi gimana mau populer coba. Kalo tiap hari kerjaannya mengurung diri terus. Pulang kantor paling langsung pulang ke rumah. Setelah di rumah aja nggak kemana-mana. Palingan eksisnya di ruang tamu doang di depan TV 😦 .

Blog ini sama aja. mengurung diri terus dan nggak mau sosialisasi. Kalo blog walking, cuman numpang lewat doang dan nggak ninggalin jejak. Kalo ada yang mampir dan ngasih oleh-oleh komentar manis, nggak ditanggapin. Sombong banget jadi orang ya ? Heheh …

Jadi sombong, jangan dong. Nggak populer aja jadi sombong, gimana kalo udah populer yak ? 😉

Published in: on 4 Agustus 2009 at 5:17 pm  Tinggalkan sebuah Komentar