Diam Lebih Lama

Tak tahan diam lebih lama. Tapi kali ini mungkin harus diam lebih lama dari biasanya. Berharap kamu dapat mengerti apa yang kurasakan selama ini. Merasa bahwa hubungan ini entah akan dibawa kemana. Egois? Maybe. Tapi untuk kali ini, hanya itu satu-satunya cara untukku membuatmu mengerti bahwa diam tak akan menyelesaikan masalah. Yang ada malah memperkeruh masalah. Sebab kita masing-masing akan saling mempertanyakan sikap masing-masing yang pastinya terasa tak wajar.

Iklan
Published in: on 15 Maret 2010 at 1:30 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Yang layak untuk kita pikirkan

Sesungguhnya kau tahu apa yang menjadi beban di pikiranku belakangan ini. Hanya saja … entahlah. Mungkin kau hanya berpura-pura tak mengerti, atau mungkin saja kau memang tak memikirkan masalah ini sama sekali. Atau kemungkinan yang paling akhir bahwa kau memang sengaja tak memikirkannya dan lebih memilih untuk mengulur waktu hingga aku bosan menanyakannya dan memutuskan untuk pergi meninggalkanmu. Mungkin pikirmu itu lebih berwibawa dibandingkan harus meninggalkanku dalam kepedihan mendalam karena teramat sangat menginginkanmu bersamaku selama-lamanya. Tapi aku harap semua dugaanku salah.

Entah mengapa alasan ketidak siapanmu membuatku berpikir bahwa kau sama sekali tak menginginkan hal yang sama denganku. Selalu saja alasan seperti itu yang kau kemukakan untuk mematahkan keinginanku untuk sekedar mengutarakan kemungkinan-kemungkinan jalan keluar yang dapat kita tempuh.

Seringkali aku merasa kecewa bila mencoba untuk membahas masalah ini. Sebab tanggapan darimu seringkali adalah untuk menyerahkan segala pemecahan masalah ini pada Yang Maha Kuasa agar memberikan petunjuk. Memintaku untuk banyak berdoa semoga Allah memberikan rejekinya dalam waktu dekat, sehingga kita bisa membicarakan masalah ini dengan lebih serius.

Sayangku … aku dengan sangat dan amat menyadari bahwa segala-galanya telah diatur oleh-Nya. Hanya saja aku merasa itu bukan satu-satunya alasan untuk mengabaikan masalah ini. Sebagai manusia kita wajib berusaha bukan hanya mengharapkan keberhasilan dalam bentuk doa. Sikapmu yang seperti ini membuatku merasa bahwa kau tidak sepenuhnya menginginkan apa yang kuinginkan. Aku meghormati dan menghargai pendapat serta keinginanmu untuk memupuk kemapanan terlebih dahulu ketimbang membina rumah tangga. Aku sangat paham dengan kekhawatiranmu akan masa depan yang suram bila tidak dibekali dengan pondasi finansial yang kuat.

Tapi sebagai manusia yang yakin dan percaya bahwa Allah tak pernah tidur, kita wajib percaya bahwa Ia Maha Melihat. Ia dapat menilai hamba-Nya yang telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggapai keberhasilan. Aku selalu percaya bahwa setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini telah diberikan rejeki masing-masing sesuai dengan porsinya. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Hanya tergantung dari pribadi manusia tersebut untuk dapat berusaha memperoleh rejeki dan keberhasilan yang telah dianugerahkan padanya. Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita sebagai manusia wajib mensyukuri apa yang telah menjadi nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Sayangku … aku ingin sekali mendampingimu menjalani hari-hari denganmu. Tidak hanya bahagiamu, tapi juga sedihmu. Tidak hanya kemudahanmu, tapi juga kesulitanmu. Tidak hanya keceriaanmu, tapi juga kemurunganmu. Yang kuinginkan saat ini hanyalah dirimu. Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Jangan takut aku akan merasa kecewa jika suatu saat nanti kau tak mampu memenuhi keinginanku dalam hal materi. Bagiku materi bukanlah segalanya. Yang terpenting buatku adalah kebersamaan dan kekompakan dalam menjalani semuanya … BERDUA. Tidak seperti sekarang ini. Kau dan aku masing-masing menjalani hidup secara pribadi yang seolah-olah hanya memikirkan diri sendiri. Kau dengan segala hal yang berhubungan dengan diri dan keluargamu. Dan aku dengan segala hal yang berhubungan dengan diri dan keluargaku. Tak sekalipun dari kita berdua yang merasa bahwa persoalan akan lebih mudah ditemukan jalan keluar bila dua keluarga menjadi satu.

Yah … mungkin salahku jika berharap terlalu banyak darimu. Berharap sesuatu yang belum siap kau jalani hanya akan membuatmu lebih tak sanggup memikul beban yang lebih berat. Saat ini aku hanya dapat menganggap bahwa aku tak kehilangan apa-apa. Untuk memilikinya pun aku tak akan banyak berharap. Sebab jika kita tidak tahu apa yang kita punyai, mungkin saja kita tidak terlalu merasa kehilangan apa yang tidak kita punyai itu.

Published in: on 24 Februari 2010 at 5:51 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Wasn’t The Time

Kali ini tak ada semangat lagi untuk memikirkan pernikahan. Tes CPNS kali ini tak berhasil … again. Padahal itu satu-satunya sinyal positif untuk maju selangkah lagi ke arah pernikahan. But … what can I say ? Maybe this year wasn’t the time.

Published in: on 29 Desember 2009 at 7:13 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Nunggu Kamu … Siapa takut ??

Menunggu itu tak sepenuhnya meletihkan. Aku percaya akan hal itu. Sebab itu aku tak merasa berat menunggu hingga waktu yang benar-benar indah itu tiba. Kau tak perlu kuatir aku akan merasa lelah ataupun bosan. Mau minta aku menunggu hingga berapa lama, kau tak perlu menyebutkannya. Toh tanpa kau mintapun, aku telah melakukannya. Menunggumu takkan membuatku kehabisan waktu.

Published in: on 4 Desember 2009 at 8:20 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Permohonan Maafmu

Pagi ini kau mengirimkan sebuah pesan sebagai tanda permohonan maaf. Di pesan itu kau menyampaikan bahwa hatimu pun sedang dilanda kegelisahan. Mencoba untuk merenung dalam kesendirian dan berusaha mencerna segala hal mengenai dirimu yang telah membuatku merasakan kekecewaan.

Akupun memohon maafmu jika segala keluh kesah yang kusampaikan telah menyita waktu dan pikiranmu. Sungguh bukan maksudku untuk membuatmu seperti itu.

Aku hanya mampu berharap semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk kita berdua.

Published in: on 31 Oktober 2009 at 5:05 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Perubahan Sikapmu Part 2

Sejak dulu aku selalu percaya padamu. Tak pernah dan tak sedikitpun rasa curiga terlintas di benakku. Meski banyak komentar miring yang ditujukan padamu, aku berusaha untuk tidak terlalu menghiraukannya. Namun akhir-akhir ini perubahan sikapmu terasa semakin menyiksa. Mau tidak mau hatiku pun merasakan sakitnya. Pada akhirnya komentar miring itu terasa sangat masuk akal di mataku.

Kau dapat saja berkata bahwa aku hanya terpengaruh pada orang-orang di sekitarku. Namun tekanan yang datang kurasakan telah melebihi beban yang sanggup kubendung. Sedikit demi sedikit pertahananku akhirnyapun jadi terkikis.

Tak kau sadarikah rasa curigaku saat beberapa kali panggilan masuk tak kau hiraukan di ponselmu ? Benarkah yang kau katakan bahwa itu ulah orang iseng belaka ? Orang iseng yang kau maksud telah berhasil menumbuhkan rasa curiga dan cemburu di hatiku. Untuk hal ini aku masih dapat menanamkan rasa percayaku padamu sayang.

Tapi bagaimana dengan status hubunganmu di salah satu situs jejaring sosial itu ? Awalnya tak kau lengkapi profilmu dengan info status hubungan. Tapi mengapa kali ini kau melengkapinya dengan status yang memberi anggapan bahwa kau sedang lajang ? Tak pantaskah bila aku keberatan dengan perubahan status itu. Walaupun hanya di dunia maya. Tak pantaskah bila aku merasa bahwa kau menganggapku tak berarti dalam status hubunganmu ?

Aku hanya dapat berharap bahwa kekhawatiranku ini sama sekali tak beralasan. Kucoba katakan pada diriku sendiri bahwa aku hanya terlalu mengada-ada, terlalu cemas, terlalu posesif dan terlalu berlebihan menyikapi perubahanmu.

Published in: on 30 Oktober 2009 at 4:38 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Perubahan Sikapmu Part 1

Aku mengkhawatirkan dirimu yang kurasakan mulai berubah. Mulai dari sikap hingga kebiasaanmu. Mungkin kau tak merasakannya. Namun sungguh ini membuatku merasa sangat tidak nyaman. Sebut saja bahwa ini hanya perasaanku belaka.

Tak kau ingatkah suatu ketika, hari Minggu di bulan Juli. Aku menunggu kabar beritamu untuk menjemputku. Seperti kebiasaan kita untuk menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Di hari yang sama kau membatalkan rencana kita. Tepat di saat aku sudah menyiapkan bahan makanan untuk dibawa dan disantap bersama.

Tak mampukah kau membayangkan rasa kecewaku. Harapku kau akan menolak ajakan orang lain untuk membawamu. Tak kau sadarikah bahwa bukan kebiasaanmu bepergian jarak jauh tanpa ada rencana sebelumnya ? Yang aku tahu kau terbiasa merencanakan bepergian setidaknya satu atau dua hari sebelumnya.

Entahlah, mungkin ini salah satu kebiasaan barumu. Rencana yang akan kau jalankan tak kau anggap penting untuk menyampaikannya padaku. Pun setiap kegiatan yang berhubungan dengan masa depanmu. Tak sedikitpun kau berusaha menyampaikannya padaku. Yang terlintas dalam benakku adalah bahwa aku bukan orang yang kau harapkan untuk mengisi hari-hari di masa depanmu.

Published in: on 29 Oktober 2009 at 10:27 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kekecewaanku

Kau tahu bahwa aku bukanlah tipe orang yang secara frontal menyatakan keberatan jikalau ada yang tidak sesuai di hati. Untuk itulah aku berusaha menyalurkan kritik atau komplain dengan cara meminjam bait dalam lagu. Aku hanya sekedar ingin kau tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Itupun jika kau mau tahu keadaan hatiku yang sebenarnya. Itupun juga jika kau mau menanggapi dengan serius keresahanku.

Ada beberapa hal yang sebenarnya mengganggu pikiranku selama ini. Dan itu semua ada kaitannya denganmu. Dapat aku katakan bahwa selama hampir 4 tahun ini aku belum dapat mendalami pemikiranmu. Entah karena selama ini kita jarang berbincang dari hati ke hati, atau entah karena kita masing-masing masih saling menutup diri.

Aku tidak menyalahkan sikap menutup diri itu. Karena aku tahu bahwa kita sama-sama saling menghargai perasaan masing-masing. Hanya saja kekecewaan melandaku karena kau seolah-olah tak menanggapi dengan serius usahaku menyampaikan perasaan. Terlebih lagi kekecewaan mendalam saat kau mengatakan bahwa aku tidak kreatif dan inovatif.

Sayang … telah terlalu banyak kata yang kuciptakan hanya untuk sekedar menghapus galau yang mendera. Lebih dari seribu kata yang tersimpan rapi di tiap lembar halaman blog pribadiku. Tak berani kuutarakan secara langsung hanya demi dan untuk menjaga hatimu.

Tak ada petunjuk apapun dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang berputar di setiap liang otakku. Pertanyaan yang jawabannya hanya berkubang di dalam diammu. Sikap diammu seolah menyiratkan bahwa kau tak sungguh-sungguh peduli atas keluh kesahku padamu. Tak kau sadarikah itu sayang ?

Sungguh aku tak menyangka bila barisan kalimat dalam lagu itu tak mampu menggugah hatimu. Penggalan lirik itu sengaja kuhantarkan sebagai pengganti suaraku. Aku mengerti jika kau menginginkan seorang wanita yang cerdas, memiliki jiwa yang kreatif dan inovatif. Aku pun mengerti bila kau menginginkan seseorang yang mampu menyuarakan isi hatinya dengan kata-kata dari hati dan bibirnya sendiri, bukannya meminjam dari bait atau syair sebuah lagu.

Apakah tak kau sadari bahwa aku juga membutuhkan seorang pria yang mampu membelai hatiku tidak hanya dengan sekedar kata ? Keinginanku untuk mendapat sedikit hal nyata dalam kata-katamulah yang ingin kuutamakan.

Published in: on 29 Oktober 2009 at 9:52 pm  Comments (2)  

Mungkin Ini Kesalahanku

Lebih dari sepekan telah berlalu sejak kegundahanku kuutarakan padanya. Berharap sedikit benih harapan muncul dalam setiap untaian kata-katanya. Namun harapan hanya tinggal harapan. Kembali terpendam dalam lubuk hati yang paling dalam.

Entah sampai kapan kegundahan itu akan kembali muncul ke permukaan. Menyeruakkan tanda tanya yang mungkin saja hanya akan mendapatkan jawaban yang kembali sama. “Ketidak pastian”, atau mungkin akan sedikit berbeda, “Keraguan”.

Ketidak pastian dan keraguan bagiku memiliki makna yang sama. Sama-sama tak dapat diandalkan untuk memperoleh jawaban yang jelas akan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memenuhi rongga pikiranku.

Mungkin ini disebabkan oleh kesalahanku sendiri. Tak mampu mengutarakan kegundahan secara jelas dan gamblang padanya. Mungkin caraku mengungkapkan kegelisahan ini belum cukup mengena di hatinya. Sehingga iapun masih perlu banyak waktu untuk mencerna segala keluh kesah yang kuutarakan padanya.

Apa mau dikata. Aku hanya seorang wanita yang tak mampu berkata terus terang bahwa aku ingin menjadi pendamping hidupnya. Menjalani hidup ini bersamanya, sekarang dan selamanya. Menemaninya di kala suka dan duka. Bersamanya menikmati pesona sore hari di teras rumah dan ditemani secangkir teh hangat favoritnya.

Akulah sang wanita yang kala menumpahkan perasaannya tak mampu menguraikannya dalam bentuk kata-kata yang pas. Hingga hanya mampu membuatnya bingung dan pusing tujuh keliling memikirkan makna akan perkataanku.

Sebutlah aku sang putri malu yang bila tersentuh akan menelungkupkan daun-daunnya seolah-olah tak ingin disapa. Namun jauh dalam lubuk hati ia berteriak mengharapkan sapaan itu sekali lagi.

Rasa yang amat sakit di kepala tiba-tiba menyerangku. Seakan berusaha menghentikan upayaku mencari cara menyampaikan isi hatiku padanya. Mungkin ini mengisyaratkan agar aku menjalani hubungan kami bagaikan air yang mengalir. Toh aku tak perlu meragukan keseriusan dan kesetiaannya padaku. Dalam hal ini, dialah sang jagoan yang tak terkalahkan.

Published in: on 21 Oktober 2009 at 4:22 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Waktu … Tolonglah Aku

Menit demi menit berhamburan satu demi satu tak terhitung jumlahnya. Seakan tak peduli dengan ekspresi ketakutanku yang justru ingin memunguti mereka satu persatu, menyimpannya ke tempat semula dan mengunci mereka disana rapat-rapat. Hingga akhirnya pada saat yang indah akan kubuka dan kubiarkan mereka menari di setiap detik demi detik kebahagiaanku.

Andai hal itu mampu kulakukan. Pastinya aku tak akan secemas saat ini. Waktu benar-benar tak mampu kuhentikan. Sekeras apapun upayaku untuk menghentikannya, ia akan tetap melangkah dengan pasti menjalankan tugas yang dipercayakan padanya. Ia tak akan lalai, walau barang sedetikpun.

Sang waktu … tak kau lihatkah betapa sengsaranya diriku ini. Mengharapkanmu berhenti sejenak, hanya sekedar untuk memberiku sedikit harapan bahwa keinginanku segera terkabul ?Aku tak menyalahkanmu bila menganggapku tak tahu diri. Berharap kau melambatkan perguliran waktu hanya demi mengurangi kecemasanku.

Apalah dayaku, hai waktu. Aku tak ingin rapuh karena bertambahnya usiaku hari demi hari, sedangkan harapan dan dambaanku tak kunjung datang membukakan jalan. Aku tak meminta banyak waktu. Hanya hingga saat ia merasa siap dan kamipun akan merasa senang kau turut hadir menyaksikan kebahagiaan kami.

Published in: on 21 Oktober 2009 at 1:16 pm  Tinggalkan sebuah Komentar