Permohonan Maafmu

Pagi ini kau mengirimkan sebuah pesan sebagai tanda permohonan maaf. Di pesan itu kau menyampaikan bahwa hatimu pun sedang dilanda kegelisahan. Mencoba untuk merenung dalam kesendirian dan berusaha mencerna segala hal mengenai dirimu yang telah membuatku merasakan kekecewaan.

Akupun memohon maafmu jika segala keluh kesah yang kusampaikan telah menyita waktu dan pikiranmu. Sungguh bukan maksudku untuk membuatmu seperti itu.

Aku hanya mampu berharap semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk kita berdua.

Iklan
Published in: on 31 Oktober 2009 at 5:05 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Perubahan Sikapmu Part 2

Sejak dulu aku selalu percaya padamu. Tak pernah dan tak sedikitpun rasa curiga terlintas di benakku. Meski banyak komentar miring yang ditujukan padamu, aku berusaha untuk tidak terlalu menghiraukannya. Namun akhir-akhir ini perubahan sikapmu terasa semakin menyiksa. Mau tidak mau hatiku pun merasakan sakitnya. Pada akhirnya komentar miring itu terasa sangat masuk akal di mataku.

Kau dapat saja berkata bahwa aku hanya terpengaruh pada orang-orang di sekitarku. Namun tekanan yang datang kurasakan telah melebihi beban yang sanggup kubendung. Sedikit demi sedikit pertahananku akhirnyapun jadi terkikis.

Tak kau sadarikah rasa curigaku saat beberapa kali panggilan masuk tak kau hiraukan di ponselmu ? Benarkah yang kau katakan bahwa itu ulah orang iseng belaka ? Orang iseng yang kau maksud telah berhasil menumbuhkan rasa curiga dan cemburu di hatiku. Untuk hal ini aku masih dapat menanamkan rasa percayaku padamu sayang.

Tapi bagaimana dengan status hubunganmu di salah satu situs jejaring sosial itu ? Awalnya tak kau lengkapi profilmu dengan info status hubungan. Tapi mengapa kali ini kau melengkapinya dengan status yang memberi anggapan bahwa kau sedang lajang ? Tak pantaskah bila aku keberatan dengan perubahan status itu. Walaupun hanya di dunia maya. Tak pantaskah bila aku merasa bahwa kau menganggapku tak berarti dalam status hubunganmu ?

Aku hanya dapat berharap bahwa kekhawatiranku ini sama sekali tak beralasan. Kucoba katakan pada diriku sendiri bahwa aku hanya terlalu mengada-ada, terlalu cemas, terlalu posesif dan terlalu berlebihan menyikapi perubahanmu.

Published in: on 30 Oktober 2009 at 4:38 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Perubahan Sikapmu Part 1

Aku mengkhawatirkan dirimu yang kurasakan mulai berubah. Mulai dari sikap hingga kebiasaanmu. Mungkin kau tak merasakannya. Namun sungguh ini membuatku merasa sangat tidak nyaman. Sebut saja bahwa ini hanya perasaanku belaka.

Tak kau ingatkah suatu ketika, hari Minggu di bulan Juli. Aku menunggu kabar beritamu untuk menjemputku. Seperti kebiasaan kita untuk menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Di hari yang sama kau membatalkan rencana kita. Tepat di saat aku sudah menyiapkan bahan makanan untuk dibawa dan disantap bersama.

Tak mampukah kau membayangkan rasa kecewaku. Harapku kau akan menolak ajakan orang lain untuk membawamu. Tak kau sadarikah bahwa bukan kebiasaanmu bepergian jarak jauh tanpa ada rencana sebelumnya ? Yang aku tahu kau terbiasa merencanakan bepergian setidaknya satu atau dua hari sebelumnya.

Entahlah, mungkin ini salah satu kebiasaan barumu. Rencana yang akan kau jalankan tak kau anggap penting untuk menyampaikannya padaku. Pun setiap kegiatan yang berhubungan dengan masa depanmu. Tak sedikitpun kau berusaha menyampaikannya padaku. Yang terlintas dalam benakku adalah bahwa aku bukan orang yang kau harapkan untuk mengisi hari-hari di masa depanmu.

Published in: on 29 Oktober 2009 at 10:27 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kekecewaanku

Kau tahu bahwa aku bukanlah tipe orang yang secara frontal menyatakan keberatan jikalau ada yang tidak sesuai di hati. Untuk itulah aku berusaha menyalurkan kritik atau komplain dengan cara meminjam bait dalam lagu. Aku hanya sekedar ingin kau tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Itupun jika kau mau tahu keadaan hatiku yang sebenarnya. Itupun juga jika kau mau menanggapi dengan serius keresahanku.

Ada beberapa hal yang sebenarnya mengganggu pikiranku selama ini. Dan itu semua ada kaitannya denganmu. Dapat aku katakan bahwa selama hampir 4 tahun ini aku belum dapat mendalami pemikiranmu. Entah karena selama ini kita jarang berbincang dari hati ke hati, atau entah karena kita masing-masing masih saling menutup diri.

Aku tidak menyalahkan sikap menutup diri itu. Karena aku tahu bahwa kita sama-sama saling menghargai perasaan masing-masing. Hanya saja kekecewaan melandaku karena kau seolah-olah tak menanggapi dengan serius usahaku menyampaikan perasaan. Terlebih lagi kekecewaan mendalam saat kau mengatakan bahwa aku tidak kreatif dan inovatif.

Sayang … telah terlalu banyak kata yang kuciptakan hanya untuk sekedar menghapus galau yang mendera. Lebih dari seribu kata yang tersimpan rapi di tiap lembar halaman blog pribadiku. Tak berani kuutarakan secara langsung hanya demi dan untuk menjaga hatimu.

Tak ada petunjuk apapun dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang berputar di setiap liang otakku. Pertanyaan yang jawabannya hanya berkubang di dalam diammu. Sikap diammu seolah menyiratkan bahwa kau tak sungguh-sungguh peduli atas keluh kesahku padamu. Tak kau sadarikah itu sayang ?

Sungguh aku tak menyangka bila barisan kalimat dalam lagu itu tak mampu menggugah hatimu. Penggalan lirik itu sengaja kuhantarkan sebagai pengganti suaraku. Aku mengerti jika kau menginginkan seorang wanita yang cerdas, memiliki jiwa yang kreatif dan inovatif. Aku pun mengerti bila kau menginginkan seseorang yang mampu menyuarakan isi hatinya dengan kata-kata dari hati dan bibirnya sendiri, bukannya meminjam dari bait atau syair sebuah lagu.

Apakah tak kau sadari bahwa aku juga membutuhkan seorang pria yang mampu membelai hatiku tidak hanya dengan sekedar kata ? Keinginanku untuk mendapat sedikit hal nyata dalam kata-katamulah yang ingin kuutamakan.

Published in: on 29 Oktober 2009 at 9:52 pm  Comments (2)  

Mungkin Ini Kesalahanku

Lebih dari sepekan telah berlalu sejak kegundahanku kuutarakan padanya. Berharap sedikit benih harapan muncul dalam setiap untaian kata-katanya. Namun harapan hanya tinggal harapan. Kembali terpendam dalam lubuk hati yang paling dalam.

Entah sampai kapan kegundahan itu akan kembali muncul ke permukaan. Menyeruakkan tanda tanya yang mungkin saja hanya akan mendapatkan jawaban yang kembali sama. “Ketidak pastian”, atau mungkin akan sedikit berbeda, “Keraguan”.

Ketidak pastian dan keraguan bagiku memiliki makna yang sama. Sama-sama tak dapat diandalkan untuk memperoleh jawaban yang jelas akan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memenuhi rongga pikiranku.

Mungkin ini disebabkan oleh kesalahanku sendiri. Tak mampu mengutarakan kegundahan secara jelas dan gamblang padanya. Mungkin caraku mengungkapkan kegelisahan ini belum cukup mengena di hatinya. Sehingga iapun masih perlu banyak waktu untuk mencerna segala keluh kesah yang kuutarakan padanya.

Apa mau dikata. Aku hanya seorang wanita yang tak mampu berkata terus terang bahwa aku ingin menjadi pendamping hidupnya. Menjalani hidup ini bersamanya, sekarang dan selamanya. Menemaninya di kala suka dan duka. Bersamanya menikmati pesona sore hari di teras rumah dan ditemani secangkir teh hangat favoritnya.

Akulah sang wanita yang kala menumpahkan perasaannya tak mampu menguraikannya dalam bentuk kata-kata yang pas. Hingga hanya mampu membuatnya bingung dan pusing tujuh keliling memikirkan makna akan perkataanku.

Sebutlah aku sang putri malu yang bila tersentuh akan menelungkupkan daun-daunnya seolah-olah tak ingin disapa. Namun jauh dalam lubuk hati ia berteriak mengharapkan sapaan itu sekali lagi.

Rasa yang amat sakit di kepala tiba-tiba menyerangku. Seakan berusaha menghentikan upayaku mencari cara menyampaikan isi hatiku padanya. Mungkin ini mengisyaratkan agar aku menjalani hubungan kami bagaikan air yang mengalir. Toh aku tak perlu meragukan keseriusan dan kesetiaannya padaku. Dalam hal ini, dialah sang jagoan yang tak terkalahkan.

Published in: on 21 Oktober 2009 at 4:22 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Waktu … Tolonglah Aku

Menit demi menit berhamburan satu demi satu tak terhitung jumlahnya. Seakan tak peduli dengan ekspresi ketakutanku yang justru ingin memunguti mereka satu persatu, menyimpannya ke tempat semula dan mengunci mereka disana rapat-rapat. Hingga akhirnya pada saat yang indah akan kubuka dan kubiarkan mereka menari di setiap detik demi detik kebahagiaanku.

Andai hal itu mampu kulakukan. Pastinya aku tak akan secemas saat ini. Waktu benar-benar tak mampu kuhentikan. Sekeras apapun upayaku untuk menghentikannya, ia akan tetap melangkah dengan pasti menjalankan tugas yang dipercayakan padanya. Ia tak akan lalai, walau barang sedetikpun.

Sang waktu … tak kau lihatkah betapa sengsaranya diriku ini. Mengharapkanmu berhenti sejenak, hanya sekedar untuk memberiku sedikit harapan bahwa keinginanku segera terkabul ?Aku tak menyalahkanmu bila menganggapku tak tahu diri. Berharap kau melambatkan perguliran waktu hanya demi mengurangi kecemasanku.

Apalah dayaku, hai waktu. Aku tak ingin rapuh karena bertambahnya usiaku hari demi hari, sedangkan harapan dan dambaanku tak kunjung datang membukakan jalan. Aku tak meminta banyak waktu. Hanya hingga saat ia merasa siap dan kamipun akan merasa senang kau turut hadir menyaksikan kebahagiaan kami.

Published in: on 21 Oktober 2009 at 1:16 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kecelakaan Kecil Menimpanya

Seorang pengantar air galon menyambar sepeda motornya. Ia terjatuh dan terseret beberapa meter dari motornya. Beruntung tak ada kendaraan lain yang menabraknya dari belakang. Ada beberapa luka lecet di kaki dan tangan kanannya.

Terima kasih karena tak ada luka yang patut dikhawatirkan. Beruntung pula motornya tak rusak parah. Alhamdulillah … Ia selamat. Aku tak berani berandai-andai bila hal yang lebih buruk menimpanya. Terima kasih ya Allah, telah Engkau selamatkan ia dari maut.

Published in: on 14 Oktober 2009 at 9:45 pm  Comments (1)  

Pengen Banyak Makan

Lagi pengen makan yang banyak. Mumpung lagi ada nafsu buat makan. Nyam … nyam … senangnya. Semua makanan jadi terasa lezat jika disantap saat sedang lapar.

Maap ya. Bukannya nggak menghargai warga Padang sana yang lagi kena musibah, sehingga mau ngeganjel perut aja rasanya nggak enak karena mikirin sanak keluarga yang belum ketemu. Bukan juga nggak menghargai bulan suci Ramadhan yang baru aja lewat, jadinya seolah ‘balas dendam’ dengan terlalu banyak makan.

Ini semua demi kelangsungan badanku yang kurus kering ini. Dikata busung lapar juga enggak, lah wong aku punya penghasilan yang cukup buat beli makanan yang bergizi. Dibilang malas makan juga enggak, lah wong nih mulut pengen aja selalu ngunyah. Tapi kok ya emang nih badan nggak bisa gemuk aja kali ya. Pipi aja nih yang makin tembem.

Published in: on 5 Oktober 2009 at 5:02 pm  Tinggalkan sebuah Komentar