Orang Lain yang Berutang, Aku yang Dikejar

Hari ini aku sebeeel banget. Gimana enggak, orang lain yang makan nangka, aku yang kena getahnya.   duit

Mulanya aku mendapat tugas penanggung jawab arisan. Nah, ada salah satu anggota arisan yang akan pulang ke kampung halamannya dan enggak balik lagi. Kebetulan orang ini namanya sudah keluar, alias sudah terima duit arisan di periode kesekian. Nah, berhubung dia bakalan sulit dihubungi untuk pembayaran arisan yang selanjutnya, maka ia menitipkan sejumlah uang sebagai angsuran pembayaran padaku.

Awalnya aku berniat membagikan uang tersebut kepada anggota arisan lain yang namanya belum keluar. Hanya saja ada salah satu anggota yang bermaksud meminjam dan berjanji mengembalikannya dengan dicicil setiap bulan bersamaan dengan pembayaran arisannya.

Sebenarnya sih aku rada nggak percaya sama orang ini. Soalnya dia ada sejarah keuangan yang kebiasaannya gali lobang tutup lobang. Sebenarnya aku nggak ikhlas memberikan uang tersebut. Tapi karena ada perasaan nggak enak kalo nolak, makanya uang tersebut kuberikan. Tapi dengan satu syarat, ia benar-benar harus membayar sesuai dengan kewajiban arisan dia sendiri plus kewajiban pinjamannya.

Nah, setelah bulan keempat, orang ini nggak memperlihatkan batang hidungnya. Sehari sebelum acara arisan sudah aku hubungi. Katanya akan datang untuk bayar angsurannya. Tapi tunggu punya ditunggu, ternyata nggak nongol-nongol juga. Telepon nggak aktif, kalo aktif nggak diangkat. Nyebelin nggak sih ? Lebih sebal lagi karena tanggung jawabnya itu aku yang harus menanggung.

Hiks, pengen nangis rasanya saat dimintai pertanggung jawaban. Duitnya sih nggak seberapa. Saya bisa nalanginnya. Cuma masalahnya rasa kesal dan sakit hati karena kepercayaan yang kuberikan telah diingkari. Belum lagi sepertinya nggak ada niat baik untuk menyelesaikan permasalahan. Didatangin rumahnya, juga gak ada. Telepon, baik yang CDMA maupun yang GSM sama-sama gak aktif. Kalaupun aktif, telepon nggak diangkat, SMS-pun nggak dibalas.

Saya bisa ngerti kalau setiap orang pasti punya masalah, apalagi masalah kesulitan keuangan. Tiap orang pasti pernah punya masalah seperti itu. Tapi setidaknya dia harus menunjukkan itikad baik dengan sekedar mengkonfirmasi bagaimana penyelesaiannya.

Gitu deh, hari ini dapat pelajaran berharga. Setiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya. Mudah-mudahan dengan adanya kejadian ini, di masa depan urusanku bisa selalu dimudahkan, dan rejekiku dilonggarkan. Amin

Iklan
Published in: on 28 Januari 2009 at 8:10 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Twilight

Awal mulanya suka baca novel saat aku  ditugaskan di daerah. Saat itu harus hidup nge-kost. Ternyata hidup nge-kost ada untungnya juga lho. Diantaranya yaitu enggak ada yang ngedumel kalau aku baca novel seharian. Asli seharian, karena waktu break cuma buat mandi, makan dan pipis :P. Emang kebiasaan jelek sih. Soalnya kalau sudah dapat bacaan yang seru, bakalan penasaran sampe bacaannya tuntas. twilight

Saat tugas di daerah itu pula aku dapat novel karya trilogi Clara Ng yang judulnya Indiana Chronicle. Seru banget novelnya. Aku baca ketiga-tiganya walaupun urutannya nggak beraturan. Maklum, mesti antrian sama penyewa novel yang lainnya.

Sejak itu aku jadi rajin baca novel. Di kantorpun, saat ada waktu senggang disempat-sempatkan untuk baca novel. Kebiasaan buruk lagi ya ? Aku emang punya banyak kebiasaan buruk.

Sekarang, karya Clara Ng yang terbaru apalagi ya ? Aku sudah lama nggak ke toko buku. Next week mungkin aku sempatin deh surfing di toko buku.

By the way, aku mau ngebahas soal novel Twilight yang sementara ini filmnya sedang diputar dibioskop-bioskop. Gimana ya … sewaktu baca novelnya, aku rada-rasa nggak tertarik sama jalan ceritanya. Entah karena isinya yang agak memusingkan, atau entah karena gaya penulisannya yang kurang menarik dimataku. Sewaktu baca, enggak ada satupun dari isi novel itu yang membuatku penasaran untuk membacanya. Entah dengan para penikmat novel yang lainnya. Kalau aku pribadi sih ngerasa seperti itu.

Isi novelnya kan tentang fantasy gitu. Aku sebenarnya suka dengan novel yang berbau fantasy, misalnya Harry Potter. Tapi kalau Twilight kok enggak ya ?. Pokoknya bagi aku, Twilight enggak begitu menarik diceritakan dalam novel.

Tapi bagaimana dengan filmnya ? Apa ada yang sudah menontonnya ? Aku belum nonton. Mungkin Twilight versi film akan lebih menarik. Untuk kepastiannya, ditonton aja kali ya ?

Ayo … siapa yang sudah nonton filmnya, kasih komentar ya.

Published in: on 28 Januari 2009 at 4:00 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Dua Hari Libur Tanpa My Honey

Setiap hari libur biasanya aku dan my honey menyempatkan diri untuk saling bertemu.  Seharian waktu akan dihabiskan bersama. Biasanya agenda rutin yang kami lakukan adalah memasak dan menonton vcd sewaan dirumahnya. heart

Belakangan ini kegiatan tersebut sudah  mulai berkurang. Kadang hanya menonton vcd tanpa ada kegiatan memasak. Kadang pula hanya bertemu sebentar, menonton teve, dan setelah itu aku pulang.

Aku pribadi merasakan ada sedikit ganjalan dalam hubungan kami. Entah apa sebabnya. Mungkin ada sedikit rasa bosan dalam menjalani rutinitas kami. Hingga kegiatan di saat liburanpun terasa seperti agenda rutin biasa. Tidak ada sesuatu yang membuat kami merasakan adanya perasaan terhibur ataupun terlepas dari penat setelah seminggu menjalankan rutinitas pekerjaan. Entah ia menyadarinya atau tidak. Atau mungkin ia menyadarinya namun tidak mengungkapkannya.

Minggu dan Senin kemarin adalah dua hari libur berturut-turut. Dua hari libur ini tidak mempertemukan kami. Hari libur pertama my honey berangkat ke daerah menjenguk pamannya. Aku sedikit kesal saat ia menyampaikannya padaku. Padahal aku sudah menyiapkan rencana untuk memasak sesuatu di rumahnya. Hal ini sudah jarang kami lakukan. Terpaksa rencana itu aku jalankan sendiri di rumah.

Hari libur kedua, paginya  ia sudah kembali ke rumah. Hanya saja, aku sudah tidak ada gairah untuk berjumpa dengannya. Aku putuskan untuk tidak menanggapi kepulangannya.

Aku mengisi waktuku dengan membereskan rumah dan memasak masakan kesukaanku. Ini salah satu hal yang jarang kulakukan bila akhir minggu bersama dengannya.

Entah apa yang dapat kulakukan untuk mengubah situasi yang terjadi di antara kami. Entah bagaimana pula aku mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan di hati selama ini.

Kalau melihat sikapnya selama ini, ia seperti tak merasakan apa yang aku rasakan. Selama ini ia terlihat biasa-biasa saja. Tak seperti sedang memiliki suatu ganjalan di hati mengenai hubungan kami. Hanya saja yang dapat kutangkap adalah ia tidak seperti dulu lagi yang inginnya setiap hari bertemu. Dulunya setiap hari bertemupun kadang kala masih ia rasakan kurang.

Published in: on 27 Januari 2009 at 6:09 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Gong Xi Fa Cai

Selamat Tahun Baru Imlek buat yang merayakan. Gong Xi Fa Cai.

imlek

Berdasarkan Wikipedia Indonesia, Tahun Baru Imlek adalah hari raya yang dirayakan pada hari pertama dalam bulan pertama kalender Tionghoa. Hari raya ini dikenal juga dengan Chūnjié (Festival Musim Semi) atau Nónglì Xīnnián (Tahun Baru).

Saat ini, Tahun Baru Imlek tidak hanya dimeriahkan oleh warga keturunan Tionghoa saja. Seluruh masyarakat Indonesia turut merasakan  kegembiraannya. Dulunya di masa Orde Baru, perayaan Imlek tidak boleh dirayakan di depan umum. Setelah masa Reformasi, perayaan Imlek diperbolehkan  dan menjadi hari libur nasional.

lampionSaya pribadi menyukai kemeriahan perayaan Imlek. Rasanya senang melihat ornamen-ornamen khas Imlek dan segala pernak perniknya yang berwarna merah. Bagi warga keturunan Tionghoa, warna merah merupakan warna yang menandakan kebahagiaan. Diharapkan di tahun yang baru akan membawa kebahagiaan.

Published in: on 27 Januari 2009 at 4:05 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Nyoba Resep

Hari minggu ini kebetulan tidak ada rencana melakukan kegiatan apa-apa di luar rumah. Kebetulan my honey lagi keluar kota menjenguk pamannya yang sedang sakit. Katanya sekalian mengantarkan obat.

noodle

Sabtu kemarin aku sempat mencatat sebuah resep. Judulnya “Si Pedas Instant Ramen Ala-Ku“.  Resepnya mudah, bahannya juga tidak sulit.

Di hari Minggu yang senggang, aku coba mempraktekkannya. Awalnya di siang hari sehabis makan siang. Nyoba buat untuk tiga porsi. Ternyata hasilnya yummy. Meskipun salah satu bumbu yang aku pergunakan entah benar entah salah. Di resep dicantumkan 5 buah cabe merah. Setahuku cabe merah itu adalah cabe besar. Jadi yang kugunakan dalam masakanku adalah cabe besar. Hanya saja yang kugunakan cuma 1 buah cabe merah saja. Entah resep yang kupraktekkan ini benar atau salah, tapi hasilnya memuaskan. Rasanya yummy.

Makasih buat Mama Ay yang sudah ngepost resepnya. Saya yang suka masak tapi nggak punya banyak resep jadi banyak terbantu.

Karena rasanya yang enak. Keesokan harinya aku buat lagi untuk dua porsi. Rasanya tetap yummy.

Untuk para blogger yang lain, boleh nyoba. Dijamin rasanya enak.

Published in: on 27 Januari 2009 at 1:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Jangan Kirimi Aku Bunga


Aku mendapat bunga hari ini.
Meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar
Dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirimi aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini. tulip2
Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku.
Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini,
Padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain.
Semalam ia memukul aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya.
Aku tidak punya uang. Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini.
Hari ini adalah hari istimewa.. inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam.
Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini…

Taken From : http://www.heartnsouls.com

Published in: on 23 Januari 2009 at 7:42 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kapan ???

marriageNak, tadi pagi ayah kamu meminta ibu menanyakan sesuatu padamu“. Ibu menghampiriku yang sedang istirahat di kamar.

Menanyakan apa bu ?” Aku bertanya dengan raut muka penasaran.

Begini loh, sebenarnya ayah kamu hanya ingin menanyakan hubungan kamu dengan ‘ *** ‘. Sejauh mana hubungan kalian ? Apakah ia serius akan menikahimu nantinya ? Ayah kamu khawatir terhadap hubungan kalian yang seperti tidak ada ujungnya. Kalian pacaran sudah lama kan ?” Ibu menjelaskan maksud ayah dengan hati-hati, takut aku menanggapinya dengan persepsi yang berbeda.

Ia serius, bu. Dulu ia sempat berkata akan melamar, hanya saja situasinya belum memungkinkan. Sebelum kakak tertuanya menikah, ia tidak ingin mendahuluinya. Untuk itu ia menunggu kakaknya menikah lebih dulu, baru kami yang akan maju. Setelah kakaknya menikah, kebetulan adiknya yang berikutnya lebih dulu dilamar. Jadi mau tidak mau, keinginan kami untuk menikah tertunda. Sekarang, menurut saya tidak ada halangan yang berarti buat kami untuk menikah. Hanya saja, sampai saat ini belum pernah ada pembicaraan ke arah itu. Saya juga tidak berani menanyakannya. Saya takut ia merasa ditodong untuk segera menikahi saya. Saya tidak mau ia merasa seperti itu, bu“.

Aku berusaha menjelaskan situasi yang terjadi dalam hubungan percintaanku pada ibu. Ibu terlihat mengerti posisiku.

Kalau saja ibu tahu isi hatiku yang sebenarnya. Aku juga merasakan kekhawatiran yang sama. Aku juga khawatir hubunganku dengannya tidak akan ada ujungnya. Di lubuk hatiku yang paling dalam, akupun memiliki pertanyaan yang sama, apakah benar ia serius akan menikahiku ? Tentunya aku tak akan menemukan jawabnya bila tak kusuguhkan pertanyaan itu padanya.

Tapi aku tak punya nyali untuk menanyakannya. Apakah etis buatku untuk menanyakan langsung padanya ?

Kapan kita akan menikah ? Apakah kamu akan melamarku ? Ayahku menunggumu untuk melamarku. Aku sudah tidak muda lagi. Usiaku sudah hampir kepala tiga. Apakah kamu akan melamarku saat aku sudah nenek-nenek ?  Ugh ! Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa terlintas di benakku saja tanpa pernah bisa kuungkapkan.

Atau … mungkin ada suatu cara manis untuk mengungkapkan rasa dan menyelipkan tanya tanpa membuatnya merasa aku menanyakan hal itu. Ya, pasti ada.

Hanya saja aku tidak tahu caranya. Mungkin aku butuh bantuan seseorang untuk menanyakannya untukku, tanpa membuatnya tersadar bahwa pertanyaan itu berasal dariku.

Tapi ia sendiri juga sudah sering mendapatkan pertanyaan itu dari orang lain. Pertanyaan dari kawan yang seperti : Hei, makin serasi aja nih, kapan diresmikannya ?. Di saat menghadiri pesta pernikahan kawan, Kalian kapan nyusul nih ?. Ketemu atasanku saat ia menjemput di kantor, “Kalian kapan rencananya ? Biar bisa acara makan-makan lagi“.

Semua pertanyaan itu hanya ia jawab “Tunggu aja tanggal mainnya“, atau “Tunggu saja undangannya“, atau “Doakan saja semoga bisa cepat“, sambil ia senyum-senyum simpul.

Yah … itu sih bukan jawaban yang kudambakan.

Di saat awal-awal pacaran, pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban seperti itu masih merupakan embun di pagi hari. Memberikan kesegaran yang menambah semangat untuk tetap mempertahankan hubungan dengan penuh harapan. Tapi untuk saat ini, pertanyaan dan jawaban itu bagiku layaknya api unggun yang bila hanya sesaat kita berada di dekatnya akan terasa hangat, namun bila terlalu lama akan terasa membakar. Membakar lubuk hati, sehingga menginginkan jangan ada pertanyaan seperti itu lagi. Aku hanya dapat menjawab “Hanya Tuhan yang tahu“.

Hingga saat ini pertanyaan itu masih tetap tersimpan di ujung bibirku tanpa sanggup kututurkan.

Published in: on 23 Januari 2009 at 5:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Rasa Syukur

Hai … lama gak ketemu nih, apa kabar ?” Seorang kawan lama menyapa hangat saat membukakan pintu rumahnya.

Aku mengunjungi seorang kawan lama di kediamannya. Kebetulan ia sudah berkeluarga sehingga tidak banyak waktu untuknya mengunjungiku. Hari-harinya disibukkan dengan kegiatan mengajar di salah satu sekolah dasar. Belum lagi kegiatan tambahan dengan mengambil kuliah malam. Dan juga kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak tentunya sangat menyita waktu.

syukur

Aku bertandang ke rumahnya untuk sekedar memberinya selamat atas kesuksesannya menyelesaikan gelar sarjananya dan tawaran melanjutkan gelar master di negeri kangguru. Benar-benar suatu kesuksesan yang membanggakan.

Kabar baik, tambah gemuk aja nih !” Kujawab sapaannya dengan sedikit menggoda postur tubuhnya yang sebenarnya tidak begitu gemuk untuk ukuran seorang ibu dengan dua anak.

Waduh, lama gak ketemu ya ? makin cantik aja nih. Pipi makin tembem, tapi kok badan ga berubah ya ? masih langsing aja kayak dulu“. Iapun menjahiliku dengan mengomentari postur tubuhku yang tidak banyak berubah, tetap kurus saja seperti masih kuliah dulu. Saat ini aku merasa bobot badanku agak bertambah, hanya saja tidak begitu nampak. Yang jelas terlihat adalah bentuk pipiku yang terlihat makin bulat saja.

Anak-anakmu kemana ? Kok tidak kelihatan ? Mereka pasti sudah besar“. Aku menanyakan keberadaan anaknya yang sejak tadi tak terlihat.

Oh, yang sulung ada di rumah mertua. Beliau yang bantu mengurusnya. Sedangkan yang bungsu sedang ada di kampung bersama neneknya. Maklumlah, belakangan ini aku sedang sibuk menyelesaikan skripsi dan persiapan ujian akhir. Jadi kutitipkan mereka untuk sementara“. Ia memberi penjelasan sambil sesekali tersenyum padaku. “Kamu sendiri bagaimana ? Pekerjaan lancar kan ? Ia balik bertanya.

Pekerjaanku baik-baik saja. Aku iri loh sama kamu. Gelar sarjana sudah nangkring di belakang nama, tawaran beasiswa menghampiri, punya keluarga, punya suami dan anak. Karir dan kehidupan kamu pasti akan bagus nantinya“. Aku memujinya dengan sungguh-sungguh merasa iri padanya.

Aku yang hanya lebih muda satu tahun darinya, masih merasa belum memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Awal aku bertemu dengannya, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Saat kami sama-sama beridentitaskan mahasiswa baru di kampus. Dan saat ini, semuanya berubah. Ia bagaikan berada beberapa anak tangga di atasku.

Yah, tak bisa kupungkiri bila melihat ke belakang, kuakui bahwa ia dulunya memang sangat agresif mengejar cita-cita bila dibandingkan denganku. Setelah lulus dari Diploma ia menikah. Ternyata pernikahan tak menghalangi langkahnya untuk terus maju. Ia melanjutkan kuliah disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Tak lupa pula ia mencari pengalaman dengan mengajar mata pelajaran bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar. Sungguh suatu hal yang bertolak belakang denganku.

Aku, setelah lulus dari Diploma, hanya disibukkan dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Alhamdulillah, setelah mendapatkan gelar Ahli Madya, aku tidak begitu kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Meskipun bidang pekerjaannya tak sesuai dengan latar belakang pendidikanku di kampus. Tapi aku patut bersyukur, karena ternyata Tuhan menyayangiku dengan tak membiarkanku nelangsa karena tak memiliki pekerjaan.

Setelah aku pikir-pikir,   Tuhan sangatlah adil. Ia memberikan nikmat sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Jika saja aku dihadapkan pada situasi yang dialami oleh kawanku, mungkin saja aku tak dapat membagi waktu dengan baik. Aku bukan tipe orang yang dapat membagi waktu sesuai dengan porsinya. Jika aku ngantuk, aku akan tidur sepuasnya. Jika aku ingin bersantai di rumah, aku akan mendekam di rumah sepuasnya. Tak dapat kubayangkan jika saja aku sesibuk kawanku tadi. Pastilah ada salah satu bagian yang keteteran. Mungkin saja kuliahku, mungkin juga pekerjaanku, atau mungkin pula keluarga kecilku. Tak bisa kubayangkan bagaimana repotnya diriku ini.

Aku benar-benar patut bersyukur. Di usiaku saat ini, aku belum perlu direpotkan dengan segala macam persoalan rumah tangga. Aku hanya perlu konsentrasi pada pekerjaanku, keluarga besarku, dan kehidupan pribadiku. Aku tak perlu memikirkan hal lain selain itu. Memang egois kedengarannya. Tapi semua itu kuanggap wajar saja. Mumpung aku masih sendiri, belum berkeluarga. Jadi otakku belum perlu berpikir secara kompleks.

Published in: on 23 Januari 2009 at 4:20 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Oh … Teganya

tangga-band

akhirnya kau pun pergi
biarkan ku disini
ternyata kau juga tak punya hati
di hati tak terperi
sedih ku telan sendiri
mau marah tapinya sama siapa

kini aku disini
cuma sendiri
tiada yang mencari
sampai hati
sampai begini
kau tak peduli
oh teganya

apakah salah dan dosaku
mengapa semua tinggalkan ku
mau marah tapinya sama siapa

pedih ku tak terbendung
langit ku mendung tiada berujung
kemana berlindung
sekarang engkau pun pergi
kenapa begini hatiku sedih
ku sendiri

Song From : Tangga

Suka banget ma lagu ini. Tapi bukan berarti lagunya mewakili hati lho. Cuma suka aja ma musiknya.

Published in: on 22 Januari 2009 at 7:30 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

SMS

sms

“Sayang, tau tdk ini no siapa ? 081xxxxxxxxx”. SMS dikirim.

5 menit …

10 menit …

20 menit …

Tak ada balasan. Mungkin sedang sibuk, atau mungkin juga sedang mandi. Jam segini biasanya dia emang lagi mandi sore. Setelah 30 menit lamanya menunggu, tak ada jawaban sama sekali. Ku SMS sekali lagi.

“Sayang, tau tdk ini no siapa ? 081xxxxxxxxx”. SMS dikirim.

Dibalas dengan singkat. “Iya

Huh, jawabannya sungguh tak memuaskan. Kucoba tanyakan lagi.

Itu no siapa ?” Kukirim SMS dengan berharap-harap cemas akan jawabannya nanti.

Teman. Kenapa ?My honey menjawab, juga sambil bertanya.

Teman kantor, teman kuliah, teman kos, TTM ?” Pertanyaanku mulai mendetail. Aku masih belum puas dengan jawaban satu kata tersebut.

Lengkap amat. Teman kantor lah … Kenapa ?

Jawabannya kok santai amat ya ? Padahal dihatiku ini mengharapkan jawaban yang lebih daripada itu, yang bisa mengungkapkan kecurigaanku terhadap SMS yang masuk ke inbox-nya menggunakan nomor tersebut. Tapi kucoba SMS sekali lagi. Sekedar untuk memuaskan rasa penasaranku.

Co ato Ce ?” Semoga pertanyaanku yang satu ini bisa mengarahkanku pada kebenaran. Aku mempercayai 100% perkataannya, namun aku tak menampik bahwa hatiku curiga.

Cewek. Knp sih pertanyaanx itu2 melulu ?“.

Well, nampaknya dia mulai kesal dengan pertanyaanku seputar nomor tersebut. Aku memaklumi kekesalannya. Namun aku lebih kesal lagi karena ternyata apa yang ada dihatiku ternyata benar. Benar dalam arti, yang mengirim SMS menggunakan nomor itu ternyata seorang perempuan.

SMS-nya kubalas dengan penjelasan tentang mengapa aku meributkan nomor handphone tersebut. Menjelaskan tentang kekesalanku terhadap SMS yang masuk di Inbox-nya menggunakan nomor itu. Kujelaskan pula bahwa aku tak mempersoalkan isi SMS tersebut seperti apa, hanya saja yang perlu aku tahu adalah : siapa si pengirimnya.

Semesra atau sejanggal apapun isi SMS yang ada dalam Inbox handphone-nya, aku selalu mencoba untuk tidak mempermasalahkannya jika aku tahu siapa yang mengirimkannya. Kucoba untuk mengerti bahwa SMS itu hanya sekedar SMS, tanpa ada maksud dibaliknya.

Yah, itulah aku. Aku yang selalu menerima dia apa adanya. Aku yang selalu berusaha untuk tidak membesar-besarkan masalah yang ada. Karena aku yakin dan percaya iapun melakukan hal yang sama terhadapku.

Published in: on 22 Januari 2009 at 4:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar