Perbedaan

Mentah

Satu kata yang pantas kau berikan

Oleh karena ketidak dewasaanku

Menyikapi egoku

Matang

Satu kata yang pantas kuberikan

Oleh karena kesungguhan sabarmu

Menghadapi egoku

Perbedaan sungguhlah berharga

Diciptakan tuk tujuan mulia

Jika tidak, hancurlah dunia

Karena ketidak seimbangannya

Published in: on 29 April 2009 at 8:23 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Satu trik jitu

Yang pantas untuk dipraktekkan untuk meminta maaf tanpa harus gengsi langsung ngomong dari bibir sendiri.

Rencananya nih ya … ntar sore atau kapan aja ada waktu, aku ke rumahnya.

Trus kalo dia ada di rumah, aku kasih deh tuh permen KISS.

Itu tuh, permen mint yang dibelakang bungkusnya ada tulisan atau kata-kata romantis gitu.

Untuk permennya, aku cari yang ada kata-kata : I LOVE YOU, I NEED YOU, and the last and only : I’M SORRY.

Kalo cuma kata-kata itu pasti gampang dapetnya.

Biasanya dalam satu bungkus besar pasti ada kata-kata itu. Hihihi

Jadi nggak enak, masak mau minta maaf aja mesti pake cara kayak gini ya ?

Tapi mau gimana lagi dong … selain malu, gengsi, nggak berani, sekalian promosi permen kan ??? heheh … *ngeles*

Biarin deh, yang penting niat dah ada.

Tinggal nunggu respon aja dari yang dimintai maaf.

Apakah bisa menghargai usaha dari si peminta maaf

Published in: on 29 April 2009 at 7:33 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Aku emang orang yang nggak pinter ngomong

Dulu, sewaktu kerja di salah satu perusahaan pialang, manajerku pernah bilang kalo aku tuh sering nggak jelas dengan apa yang aku omongin. Yang aku maksud A, tapi yang aku omongin C, yang aku jelasin D, yang aku ucapin B. Bego banget ya ? anak kecil aja pinter ngasih tau keinginannya. Lah aku ??? mau ngomong aja ngalor ngidul.

Ini juga berdampak pada hubungan spesial yang aku jalin. Setiap kali ingin membicarakan sesuatu yang serius atau sedikit sensitif, bawaannya pasti bingung mau ngomong atau ngejelasin dari mana. Kalo yang diajakin ngomong bisa langsung ngerti tanpa dijelasin terlalu banyak dan ngasih respon sesuai yang aku harapkan, biasanya omongan akan nyambung dan problem must be completed.

Tapi nih ya … nggak semua orang bisa langsung ngerti pokok permasalahan kalo aku yang memulai pembicaraan. Jadinya kadang topik yang ingin kubahas malah nggak terbahas sama sekali disebabkan penjelasanku yang ngalor ngidul nggak tentu arah.

Yang lebih sering salah paham dengan maksudku adalah pasanganku. Sering banget salah paham, apalagi ama pacar yang sekarang. Nggak kehitung deh berapa kali beliau salah paham gara-gara aku nggak tau mesti ngejelasin maksudku. Jadi pengen diam aja. Hiks …

Yang bikin aku lebih kesulitan adalah karena dia orangnya nggak pernah ngomong kalo lagi marah atau tersinggung. Yang ada aku harus pinter-pinter membaca bahasa tubuhnya. Kalo dia udah nggak banyak ngomong, lebih banyak baring di lantai dengan posisi telungkup dan kedua tangan menopang kepala dengan sikap seolah-olah tidur padahal lagi mikir, atau kalo dia mulai menjaga jarak, itu tandanya dia sedang nggak mood gara-gara kesal atau tersinggung.

Huuh … aku jadinya malah tambah bete. Secara gitu loh … aku ini kalo lagi kesal rada-rada kayak gitu juga. Lebih banyak diam dan hanya menampakkan wajah cemberut dan cembetut. Mosok mesti dapat feed back atau respon dari dia juga sama kayak gitu ? nggak nyambung kan ? Jadinya kita diam-diaman deh. Perang dingin gitu ceritanya.

Kalo udah perang dingin kayak gitu, biasanya dia yang akan memulai proses pemulihan. 2 atau 3 hari kemudian dia udah mulai gencatan senjata. Mulai sms, telpon, atau datang langsung ke rumah. Biasanya kalo udah kayak gitu, aku sudah nggak bisa marah lagi. Biasanya udah langsung baikan.

Tapi kan ya … masalah nggak benar-benar clear karena nggak diomongin sampai tuntas. Jadinya masalah itu cuma ngendap entah di mana tanpa benar-benar hilang menguap. Jadinya entah kapan masalah itu akan muncul lagi dan kejadian yang sama akan terulang. Perang dingin !!! Huhuhuhu

Published in: on 29 April 2009 at 7:32 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Undelivered Message

Dear my love,

I’d like to say “I am sorry”. Berulang kali aku membuatmu merasa tak nyaman dengan sikapku yang sulit dimengerti. Mungkin karena aku bukan pembicara yang baik dan bukan pula penyampai maksud yang baik.

Seringkali ada hal yang ingin kusampaikan padamu, tapi ternyata sulit hanya untuk sekedar memulainya. Mungkin disebabkan aku dan kau terlalu menjaga hubungan ini dengan baik. Sehingga tak ingin satu atau dua patah kata malah merusak hubungan yang telah kita bina dengan baik.

Jika kau mengenalku dengan baik, kau tentunya tak sulit memahami apa yang terjadi dalam diriku. Kau tentu mampu mengerti apa yang menjadi beban pikiranku selama ini. Sesungguhnya, apa yang menjadi pokok pemikiran kita selama ini kurang lebih sama. Hanya saja selama ini kita kurang membicarakannya, sehingga terjadi kesalahpahaman disebabkan tak ada inisiatif dari salah satu pihak untuk mulai membicarakannya.

Bukankah dalam sebuah hubungan, komunikasi itu hal yang paling penting ? Tapi mengapa dalam hubungan kita selama ini, justru hal itulah yang menjadi batu sandungan ?

Aku ingin menjalani hubungan ini tidak hanya dengan menikmati manisnya madu. Mengecap pahitnya empedu pun bukan sesuatu yang tabu buatku. Mungkin aku bukan orang pandai yang bersyukur dengan apa yang telah dimiliki. Segenggam emas telah ada di tangan, namun sebongkah batupun masih pula menjadi dambaan.

Tak bisakah sesekali kita membahas sesuatu yang panjang lebar. Meskipun alot dalam pembicaraan namun setidaknya semua kegundahan dan beban yang ada di dalam hati dapat kita keluarkan ? Tak bisakah sesekali kita berdebat tentang sesuatu dan menyelesaikannya sampai tuntas ? Meskipun sesekali kata-kata kasar atau bahkan cacian terlontar namun setidaknya semua masalah dapat terkikis hingga habis ?


Satu hal yang ingin kusampaikan padamu adalah bahwa semakin hari semakin banyak pikiran buruk yang menghantam kepalaku. Entah itu karena gunjingan orang, entah itu karena desakan dari beberapa teman, dan entah pula karena bahan bacaan yang seringkali kudapati saat blog walking.

My dear, aku sendiri tak tahu apa yang ingin kusampaikan padamu melalui surat ini. Tapi paling tidak engkau tahu bahwa hatiku tidak sedang baik-baik saja. Aku hanya ingin setidaknya engkau tahu bahwa di dalam hubungan kita sedang ada riak-riak gejolak yang perlu ditenangkan. Aku tak ingin kau meneruskan sikapmu yang berpura-pura bahwa tak ada masalah dalam hubungan kita selama ini.

Your love

Published in: on 28 April 2009 at 7:02 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Bila

Niat akan cacat bila tanpa upaya.

Upaya akan cacat bila tanpa usaha.

Usaha akan cacat bila tanpa kerja.

Kerja akan cacat bila tanpa daya.

Bibir hanya mampu berucap ya.

Namun hati tak kuasa berkata tidak.

Sanggupkah terus yakin akan harap.

Harap yang entah akan tiba.

Bila harap telah tiba.

Akankah sesuai yang didamba.

Bila harap telah tiba.

Akankah rasa tetap sumringah

Published in: on 24 April 2009 at 5:12 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Rasa ini menyiksaku

Rupiah hanya selembar kertas dan sekeping koin.
Tapi ku tak mampu mengalahkan keserakahannya
Menyita waktuku, menunda rencanaku, mengaburkan masa depanku, dan merampas impianku.

Sampai kapan aku harus menanti susunan kalimat itu.
Kata-kata yang diucapkan dengan sepenuh hati.
Diikuti tatapan mata lembut yang menanti jawaban.

Degup jantung kencang tanda tak sabar mengatakan ya.
Hati gelisah ingin bersegera.
Namun mulut tak ada nyali untuk bersuara.
Nyanyian kalbu hilang timbul tenggelam dalam seribu alasan tak jelas.

Published in: on 23 April 2009 at 9:52 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Jika Nanti

Jika nanti

Itu bukan jalanku

Sanggupkah aku

Jalani hariku

Jika nanti

Masaku bukan masamu

Dapatkah aku

Ayunkan langkahku

Jika nanti

Tempatku bukan disisimu

Bisakah aku

Cerahkan hatiku

Jika nanti

Kau bukan milikku

Mampukah aku

Isi hidupku

Published in: on 23 April 2009 at 9:51 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The day

The day is bright outside

Make my heart bright inside

My love is home this day

Make me love more the day


Published in: on 21 April 2009 at 6:34 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Rasa cemburu itu, mengapa tak pernah ada ?

Aku kadang merasa bingung dan suka kepikiran. My Honey selalu saja membebaskan aku untuk berteman dan bertemu dengan siapa saja. Entah itu pria ataupun wanita. Hal ini kadang membuatku merasa bahwa ia sama sekali tak pernah merasa cemburu. Apa iya dia benar-benar tak pernah cemburu ? Tak cemburu tanda tak cinta bukan ? Ataukah dia pernah merasa cemburu tapi tak pernah mengungkapkannya ?

One day I asked him about this. Jawabannya cukup bijaksana. Katanya ia tidak pernah perlu merasa cemburu sebab ia begitu percaya kepadaku. Rasa cemburupun tak pernah terlintas dalam hati maupun pikirannya disebabkan ia begitu mengenalku sampai-sampai ia tahu bahwa di benakku pun tak pernah terlintas pikiran untuk tak setia kepadanya.

Harus aku akui bahwa ia benar. Di benakku tak pernah terlintas pikiran buruk seperti itu. Mungkin karena darinya aku sudah memiliki lebih dari apa yang aku butuhkan dari seorang kekasih. Rasa cinta dan sayangnya begitu besar hingga ruang dalam hatiku tak mampu lagi untuk menampung rasa dari orang lain selain darinya.

I love him so much.

Published in: on 21 April 2009 at 6:32 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Urusan comblang-comblangan belum selesai

Kemaren kan sempat nyomblangin Irfan ama Niar. Ternyata Niar nggak sreg ama Irfan. Bukan karena nggak pede gara-gara si Irfan kelewatan cakep, tapi karena nggak sreg ama sikap Irfan yang dinilai Niar agak agresif untuk pertemuan pertama.

Sebenarnya si Irfan suka ama Niar dan ada niatan untuk mengenal lebih jauh. Cuma si Niar yang ngerasa bahwa kesan pertama dari Irfan kurang begitu bagus, jadinya lebih memilih untuk tidak terlalu menanggapi keinginan Irfan untuk berlanjut ke kencan kedua.

Nah, karena comblangan cowok pertama gagal, jadinya sekarang harus nyari comblangan cowok kedua. Mak comblang nggak mau nyerah nih ceritanya hehehe. Mulai deh buka-buka daftar kontak. Kira-kira siapa ya yang hare gene masih ngejomblo ? Tiar punya istri, Anto juga dah punya istri, Bagus ama Budi sudah punya pacar, Ipang sih lagi nyari pacar juga, cuma dia kerja yang tugasnya nun jauh di daerah sana. Nggak cocok buat si Niar.

Lirik punya dilirik, ternyata ada nih yang High Quality Jomblo. Kemaren-kemaren pikirnya sudah punya pacar, soalnya tempo hari sewaktu ngajakin makan bareng tau-taunya bawa pasangan buat nemenin. Ternyata cuma temen doang gara-gara saking nggak pengennya keliatan ganjil makan bertiga.

Okey, kalo yang ini yakin si Niar nggak bakalan komplain, berhubung aku sudah kenal lama ama orangnya, dan yakin nggak bakalan bikin Niar illfill di pertemuan pertama.

Nah, sekarang tugas kedua, aku mesti ngasih tahu Niar kalo aku udah dapetin satu calon yang qualified. Setelah dia setuju untuk dikenalin dan mau ngasih nomer handphonenya, baru deh nyoba ngehubungin si calon yang mau dicomblangin. Menghubungi si calon ini juga musti sambil ngorek-ngorek keterangan dulu nih. Apa benar sekarang masih belum punya pacar. Apa dia mau aku comblangin ama cewek cantik nan imut dan manja. Dan kapan dia ada waktu buat first date.

Jadi mak comblang itu tugas yang mulia gak sih ? Kok sekarang aku rada-rada bersemangat ya nyomblangin orang ? Gara-gara si Niar nih yang sifat nggak pede dan kekanak-kanakannya nggak ketulungan. Bikin aku pusing tiap hari musti selalu nasehatin. Aku pikir-pikir, kalo dia punya pacar, mungkin dia bakalan lebih dewasa dan nggak terlalu manja lagi. Punya pacar juga bisa bikin dia lebih pede kan ? Secara gitu loh … dia itu orangnya cantik tapi selalu aja mengeluh dirinya nggak menarik. Sebel kan ?

Well, tukar-tukarin nomer handphone antara Niar ama sang calon udah. Trus sekarang tinggal nunggu kelanjutannya aja. Heheh, moga berhasil …

Published in: on 21 April 2009 at 6:30 pm  Tinggalkan sebuah Komentar