Jiwaku berontak

Jiwaku berontak ingin cepat berlari. Kau malah ingin pelan berjalan.

Satu perbedaan mendasar yang entah kapan akan tersatukan.

Jika tiba waktunya nanti akankah tersatukan, atau mungkin malah terpisahkan ?

Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Iklan
Published in: on 23 Mei 2010 at 1:20 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Aku telah sampai

Aku telah sampai pada batas dimana aku tak lagi mampu mempercayaimu 100%. Membuatku tak ingin memikirkanmu lagi. Membuatku pasrah bila kau tak lagi ada disampingku. Membuatku sadar bahwa jiwamu adalah milik-Nya, yang tentu saja hanya Ia yang mampu memutar balikkan rasa, keinginan dan keputusanmu.

Published in: on 20 Mei 2010 at 5:00 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tak Hilang Sepenuhnya

Benci itu telah sampai di ujung rasaku.

Kuingin melepas dan melupakannya tanpa ada sedikitpun serpihan kenangan yang tersisa. Somebody … please bantu aku menghilangkannya dari ingatanku. Aku ingin menjalani hidup ini tanpa sedikitpun bayangan dirinya hadir dalam rajutan memoriku.

Aku masih memikirkannya. Mungkinkah ku masih sayang ?

Bayangannya timbul tenggelam tanpa pernah kuminta. Mungkinkah artinya ku masih mengharapkannya ?

Banyak hal yang kualami dengannya di masa lalu. Mungkin itu yang membuatku tak mampu melupakan sepenuhnya.

Published in: on 8 April 2010 at 11:35 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Diam Lebih Lama

Tak tahan diam lebih lama. Tapi kali ini mungkin harus diam lebih lama dari biasanya. Berharap kamu dapat mengerti apa yang kurasakan selama ini. Merasa bahwa hubungan ini entah akan dibawa kemana. Egois? Maybe. Tapi untuk kali ini, hanya itu satu-satunya cara untukku membuatmu mengerti bahwa diam tak akan menyelesaikan masalah. Yang ada malah memperkeruh masalah. Sebab kita masing-masing akan saling mempertanyakan sikap masing-masing yang pastinya terasa tak wajar.

Published in: on 15 Maret 2010 at 1:30 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Yang layak untuk kita pikirkan

Sesungguhnya kau tahu apa yang menjadi beban di pikiranku belakangan ini. Hanya saja … entahlah. Mungkin kau hanya berpura-pura tak mengerti, atau mungkin saja kau memang tak memikirkan masalah ini sama sekali. Atau kemungkinan yang paling akhir bahwa kau memang sengaja tak memikirkannya dan lebih memilih untuk mengulur waktu hingga aku bosan menanyakannya dan memutuskan untuk pergi meninggalkanmu. Mungkin pikirmu itu lebih berwibawa dibandingkan harus meninggalkanku dalam kepedihan mendalam karena teramat sangat menginginkanmu bersamaku selama-lamanya. Tapi aku harap semua dugaanku salah.

Entah mengapa alasan ketidak siapanmu membuatku berpikir bahwa kau sama sekali tak menginginkan hal yang sama denganku. Selalu saja alasan seperti itu yang kau kemukakan untuk mematahkan keinginanku untuk sekedar mengutarakan kemungkinan-kemungkinan jalan keluar yang dapat kita tempuh.

Seringkali aku merasa kecewa bila mencoba untuk membahas masalah ini. Sebab tanggapan darimu seringkali adalah untuk menyerahkan segala pemecahan masalah ini pada Yang Maha Kuasa agar memberikan petunjuk. Memintaku untuk banyak berdoa semoga Allah memberikan rejekinya dalam waktu dekat, sehingga kita bisa membicarakan masalah ini dengan lebih serius.

Sayangku … aku dengan sangat dan amat menyadari bahwa segala-galanya telah diatur oleh-Nya. Hanya saja aku merasa itu bukan satu-satunya alasan untuk mengabaikan masalah ini. Sebagai manusia kita wajib berusaha bukan hanya mengharapkan keberhasilan dalam bentuk doa. Sikapmu yang seperti ini membuatku merasa bahwa kau tidak sepenuhnya menginginkan apa yang kuinginkan. Aku meghormati dan menghargai pendapat serta keinginanmu untuk memupuk kemapanan terlebih dahulu ketimbang membina rumah tangga. Aku sangat paham dengan kekhawatiranmu akan masa depan yang suram bila tidak dibekali dengan pondasi finansial yang kuat.

Tapi sebagai manusia yang yakin dan percaya bahwa Allah tak pernah tidur, kita wajib percaya bahwa Ia Maha Melihat. Ia dapat menilai hamba-Nya yang telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggapai keberhasilan. Aku selalu percaya bahwa setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini telah diberikan rejeki masing-masing sesuai dengan porsinya. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Hanya tergantung dari pribadi manusia tersebut untuk dapat berusaha memperoleh rejeki dan keberhasilan yang telah dianugerahkan padanya. Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita sebagai manusia wajib mensyukuri apa yang telah menjadi nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Sayangku … aku ingin sekali mendampingimu menjalani hari-hari denganmu. Tidak hanya bahagiamu, tapi juga sedihmu. Tidak hanya kemudahanmu, tapi juga kesulitanmu. Tidak hanya keceriaanmu, tapi juga kemurunganmu. Yang kuinginkan saat ini hanyalah dirimu. Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Jangan takut aku akan merasa kecewa jika suatu saat nanti kau tak mampu memenuhi keinginanku dalam hal materi. Bagiku materi bukanlah segalanya. Yang terpenting buatku adalah kebersamaan dan kekompakan dalam menjalani semuanya … BERDUA. Tidak seperti sekarang ini. Kau dan aku masing-masing menjalani hidup secara pribadi yang seolah-olah hanya memikirkan diri sendiri. Kau dengan segala hal yang berhubungan dengan diri dan keluargamu. Dan aku dengan segala hal yang berhubungan dengan diri dan keluargaku. Tak sekalipun dari kita berdua yang merasa bahwa persoalan akan lebih mudah ditemukan jalan keluar bila dua keluarga menjadi satu.

Yah … mungkin salahku jika berharap terlalu banyak darimu. Berharap sesuatu yang belum siap kau jalani hanya akan membuatmu lebih tak sanggup memikul beban yang lebih berat. Saat ini aku hanya dapat menganggap bahwa aku tak kehilangan apa-apa. Untuk memilikinya pun aku tak akan banyak berharap. Sebab jika kita tidak tahu apa yang kita punyai, mungkin saja kita tidak terlalu merasa kehilangan apa yang tidak kita punyai itu.

Published in: on 24 Februari 2010 at 5:51 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Deadline

Bagiku umur bukan alasan utama untuk segera melangsungkan pernikahan. Namun tak dapat dipungkiri bahwa umurlah yang mendorong setiap orang untuk segera menikah. Di saat umur telah mencapai usia dewasa, mau tak mau seseorang pasti secara tak sadar akan memikirkan pernikahan.

Dari pemikiran itu pulalah timbul usaha untuk mewujudkannya. Berawal dengan perkenalan dengan seseorang yang tampak menarik, hingga upaya dalam pencarian cinta sejati. Ada yang dapat mewujudkan pernikahannya dalam waktu singkat, ada pula yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat memutuskan naik ke pelaminan.

For me, it needs years. It’s 2010, and I still don’t know when I will arrange a wedding with him. I’m entering the deep down side of my desperation. Kali ini mesti, harus dan wajib untuk memberinya deadline. Sebagai wanita sesekali kita harus lebih tegas untuk menentukan arah hubungan yang sepertinya sudah tak tentu arah macam ini.

Published in: on 6 Februari 2010 at 7:16 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ditelan Bumi

Mungkin ada baiknya jika untuk sementara waktu aku tertelan bumi. Sehingga tak tampak dan tak kasat mata. Tak perlu berbasa basi bermuka manis, padahal hati sedang mendongkol. Tak perlu menjawab pertanyaan basi yang jawabannya benar-benar sudah basi. Tak perlu melakukan sesuatu yang bagiku terlihat tak akan ada gunanya. Sementara waktu, sekedar memberi sedikit ruang untukku berbagi dengan diriku sendiri.

Published in: on 5 Februari 2010 at 9:37 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tak Mudah

Meredam amarah tak semudah yang aku bayangkan. Seringkali emosi memuncak saat tak kusadari bahwa emosi sedang meluap. Aku baru menyadari hal itu disaat semuanya hampir terlambat. Emosi tak terkendali, kata-kata meluncur tanpa sempat teredit, nada suara diatas sewajarnya, bahkan wajah memanas seolah-olah akan terbakar.

It happen to me all the time. Di saat hal itu terjadi, seringkali ada orang lain yang terluka diakibatkan kata yang tak sepantasnya diucapkan. Ada rasa sedih disebabkan nada suara yang jauh melompat beberapa oktaf.

Aku tahu disaat semuanya terlanjur terjadi hanya kata maaf yang dapat mencairkan ketegangan. Maaf yang tulus dari lubuk hati sepatutnya mampu melegakan sesak di dada. Namun hal itu sungguh sulit dilakukan bila emosi dan ego masih betah bertengger di kepala. Meski kutau itulah satu-satunya penawar ketegangan. Namun jika hati masih panas, butuh beberapa saat, bahkan mungkin beberapa hari untuk melenyapkannya.

Published in: on 18 Januari 2010 at 5:27 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Hargai Orang Lain yang Datang Tepat Waktu

Hatiku kesal bukan main. Sewajarnyalah aku mengeluh jika ada karyawan yang datang terlambat. Sebab aku yang setiap pagi harus berjuang melawan rasa malas dan rasa kantuk, bersikeras menerjang cuaca yang kurang bersahabat, dan berusaha menerobos macetnya kota Makassar di pagi hari hanya agar dapat tiba di kantor tepat waktu.

Aku bukan mereka yang lebih senang datang terlambat dengan berbagai alasan. Semalam tidurnya telat, bangun juga telat, pagi-pagi harus mengantar ibu, ada jadwal mengaji di pagi hari, belum sempat mandi, dan bla bla bla seribu macam alasan. That’s okay jika kalian berani jujur datang terlambat dengan daftar absen yang terlambat pula. Tapi bagaimana jika kalian curang ? Berlaku curang dengan memanipulasi data di daftar absensi sama halnya bahwa kalian tidak menghargai karyawan lain yang telah susah payah tiba di kantor tepat waktu.

Aku bukan tipe orang yang menghargai waktu. Tapi untuk datang tepat waktu, itu sudah menjadi keharusan. Aku membiasakan diri datang lebih awal bukan karena aku diberi tanggung jawab untuk memegang kunci pintu di kantor. Melainkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan berusaha menghargai orang lain yang juga terbiasa datang lebih awal.

Published in: on 13 Januari 2010 at 8:28 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Birthday Present

I bought this keyboard for him as his birthday present. It’s a Logitech Media Keyboard. I hope he likes it. Memang bukan sebuah kado yang mewah, tapi dibalik ketulusan memberikannya kuharap sebuah keikhlasan sang penerima untuk memanfaatkannya.



Published in: on 11 Januari 2010 at 6:10 pm  Tinggalkan sebuah Komentar