HP-nya Mana ?

“Tadi kan kamu yang simpan”.  hpThat’s my word to my younger brother.

Ini nih yang aku kuatirkan. Adikku yang satu ini memang rada sembrono kalau menyimpan barang. Sebelum naik ke atas motor tadi sudah diingatkan untuk menyimpan hp yang ia pegang. Takutnya hp itu tidak sengaja jatuh atau hilang.

Tapi mungkin memang sudah takdirnya barang itu mesti hilang. Jadinya ya … lenyap … gone nowhere.

Mungkin ini suatu peringatan buat aku. Secara aku lumayan cerewet kalau meminjamkan suatu barang ke seseorang, even to my own family. Bukan apa-apa sih. Aku merasa ikhlas kalau meminjamkan sesuatu ke orang yang dapat menjaga dan merawat barang yang aku pinjamkan. Rasanya lega aja kalau barang itu terjamin di tangan si peminjam.

Tapi seringkali kalau adikku ini yang meminjam, rasa kuatir selalu ada. Orangnya sembrono dan serampangan. Barang apa aja yang ia bawa seringkali hilang. Mulai dari barang yang berharga sampai pada barang yang tak berharga. Termasuk hpku yang satu ini. Ini salah satu alasan mengapa Ayah dan Ibu tidak mengijinkan adikku untuk memiliki hp. Selain karena takut hilang, keseringan hp menyebabkan mereka tidak konsentrasi belajar. Yang ada mereka hanya sibuk bersms-ria atau berhaha-hihi dengan kawan mereka di ujung telepon. Hanya saja untuk keperluan tertentu, aku akan meminjamkan salah satu hp yang aku punya untuk mereka bawa.

Harga hpnya memang tidak seberapa. Lagipula yang namanya materi masih bisa dicari. Hanya saja kok ya rasa percayaku menguap begitu saja. Ada rasa di hati untuk tidak lagi  meminjamkan sesuatu yang berharga pada mereka. Ada rasa bahwa mereka tidak mampu memperlakukan suatu barang seperti perlakuanku pada barang-barang yang aku miliki.

Mungkin karena mereka masih belum cukup dewasa. Belum cukup mengerti bahwa suatu benda juga perlu dihargai dan diperlakukan dengan layak. Bagi sebagian orang, benda juga memiliki jiwa layaknya makhluk hidup. Jika benda itu merasa tidak diperlakukan dengan layak oleh si pemiliknya, maka ia akan mencari pemilik baru.

Okay, now stop talking about that. Kali ini aku mau introspeksi diri. Dengan hilangnya hpku yang satu itu, aku merasa ini suatu teguran dari Tuhan. Selama ini aku kurang bersyukur. Ia sebagai pemberi segala nikmat dan kemudahan yang aku rasakan selama ini sudah mulai aku lupakan. Mungkin ini suatu sapaan untuk mulai menatap-Nya kembali. Aku anggap ini suatu hardikan bahwa aku masih perlu lebih banyak lagi berbagi sedekah dan beramal *wise face mode on*.

Published in: on 30 Maret 2009 at 4:27 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://incredibleleven.wordpress.com/2009/03/30/hp-nya-mana/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: