Roda Kehidupan

Dulu sewaktu masih tinggal di daerah sekitar tengah kota, aku memiliki rahmattetangga yang sangat baik. Sebuah keluarga sederhana dengan tiga orang anak yang masih kecil. Si sulung baru berumur tujuh tahun dan si bungsu berumur dua tahun. Kehidupan mereka tidaklah berlebihan, namun mereka tak pernah segan untuk berbagi. Hal itulah yang seringkali kukagumi dari mereka.

Penghasilan sang ayah adalah dari berjualan barang-barang kelontong. Mereka memanfaatkan secuil lahan di dekat trotoar yang mereka jadikan sebuah kios. Berkat sedikit kebaikan dari si pemilik lahan, mereka dengan bersemangat membuka usaha dengan uang sewa lima ratus ribu rupiah  per bulan.

Sedikit demi sedikit kehidupan mereka sejahtera. Mereka menyisihkan sebagian penghasilan untuk mengangsur biaya pembelian sepeda motor. Dengan kendaraan itu mereka berharap dapat menghemat waktu dan biaya. Tak lupa pula mereka mewujudkan impian memiliki sebuah rumah mungil di pinggiran kota. Tak pernah kubayangkan bahwa roda kehidupan akan sedemikan cepat berputar.

Kini kudapati sang ayah keluarga kecil itu datang ke rumah, memohon belas kasih dan keikhlasan ayahku untuk dapat menerimanya bekerja di bengkel furniturnya. Ia menceritakan semua masalah yang dihadapinya. Mulai dari mengapa ia tak dapat berjualan di tempat yang dulu, begitu sulitnya ia mencari lokasi kios lain untuk berjualan, keinginannya untuk bekerja apa saja termasuk menjadi karyawan ayahku, hingga kesulitannya memejamkan mata dan menyuap makanan ke mulutnya akibat depresi yang dihadapinya.

Aku trenyuh mendengarkan ceritanya. Sungguh aku merasa ini tak adil buatnya. Aku mengenalnya sebagai sosok yang sangat ramah, baik dan dermawan. Minimnya penghasilan tak membuatnya takut banyak  berderma akan mengurangi rejekinya. Tapi mengapa cobaan seperti ini yang mesti dihadapi olehnya. Akan terasa adil buatku bila seorang dermawan seperti dirinya akan terus dilimpahi rejeki dari-Nya.

Aku tak berharap ia menjadi karyawan ayahku. Sebab aku merasa ia merendahkan harga dirinya dengan menjadi bawahan ayahku. Dulunya ialah yang banyak membantu kami. Ia pula yang sering menjadi tempat hutangan rokok ayahku. Boleh dikata dulunya ia lebih berkecukupan dibandingkan kami. Aku lebih rela ia membuka kios kelontong dibandingkan ia mengemis meminta pekerjaan pada orang lain.

Mungkin inilah ujian baginya. Kesempitan dalam berusaha merupakan suatu cobaan dari-Nya. Apakah ia sanggup menghadapi cobaan ini ataukah ia akan menyerah pada jalan yang sesat.

Dan mungkin saja ini merupakan jalan Allah untuk membukakan ladang amal bagi keluarga kami dengan membantunya. Aku hanya dapat berdoa semoga Allah dapat segera melapangkan segala usahanya mencari rezki. Semoga ia dan keluarganya diberi kesabaran dan limpahan rahmat.

Published in: on 11 Maret 2009 at 8:02 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://incredibleleven.wordpress.com/2009/03/11/roda-kehidupan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: