Iri Hati Yang Mengubahku

Pertemuan dengan kawan lama sering kali membuat hatiku berdebar-debar. Bukan karena ia cantik, tampan dan rupawan sehingga membuatku jatuh karirhati. Bukan pula karena ia menakutkan sehingga membuat jantungku tak karuan. Ini lebih dikarenakan kekhawatiranku akan pendapatnya tentangku nanti.

Selain melepas rasa penasaran dan rasa kangen setelah sekian lama tak bertemu, aku seringkali membandingkan diriku dengan kawan lama saat kami bertemu. Entah itu penampilannya, pendidikannya, profesinya, penghasilannya, dan juga kehidupannya. Terkadang aku merasa minder bila keadaan kawan lamaku itu jauh lebih baik daripada aku. Sebaliknya bila keadaanku lebih baik darinya, maka aku akan merasa lebih percaya diri bertemu dengannya.

Hal yang sama saat aku bertemu dengan seorang kawan lama. Aku tak perlu menyebutkan namanya. Ia datang dari Tual. Kami bertemu setelah beberapa tahun ia tugas disana. Penampilannya tidak jauh berubah. Karirnya bagus, ia memegang tanggung jawab sebagai Kepala Accounting disana.

Saat bertemu ia sempat menanyakan apakah aku menyesal meninggalkan perusahaan tempatku dulu bekerja. Jawabanku adalah tidak. Aku tak pernah menyesal meninggalkan perusahaan itu. Bukan karena perusahaan itu tidak layak dipertahankan. Hanya saja, posisiku sebagai Admin Bengkel tidaklah dapat membawaku pada jenjang karir yang lebih tinggi. Admin bengkel akan selamanya menjadi admin bengkel. Tidak akan pernah berubah menjadi Kepala Bengkel, dimana secara fisik aku ini perempuan, dan aku tak punya pengetahuan apa-apa di bidang mekanik dan perbengkelan. Tugasku setiap hari hanya mengurus administrasi perbengkelan. Hal itulah yang membuatku memutuskan hengkang dari perusahaan itu.

Sejujurnya pada saat itu aku merasa iri hati. Iri pada teman sejawat yang sedikit demi sedikit telah menapaki jenjang karirnya. Namun pada akhirnya aku tak menyesali rasa iri hatiku pada saat itu. Sebab hal itu yang membuatku mampu meraih apa yang kuinginkan saat ini.

Kadang kala rasa iri mampu membakar hati. Namun terkadang pula rasa iri mampu membangun jiwa yang berbesar hati menerima segalanya dengan pikiran positif.

Published in: on 9 Februari 2009 at 5:59 am  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://incredibleleven.wordpress.com/2009/02/09/iri-hati-yang-mengubahku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Setu, mba🙂 “Iri” dalam konteks positif akan memacu kita untuk lebih berprestasi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: