Jenuh

Entah mengapa rasa jenuh seringkali menghampiriku. Kali ini aku jenuh pada hubungan spesialku. Hubungan kami sudah berjalan kurang lebih tiga tahun.boring1 Sejauh ini kami tak pernah menghadapi kendala yang berarti. Ia orang yang baik, bahkan terlalu baik. Ia cukup pengertian, bahkan menurutku ia terlalu pengertian.

Terkadang aku tak mampu mengartikan sikapnya yang menurutku terlalu sabar. Aku memang butuh seseorang yang mampu menghadapiku dengan penuh kesabaran. Hanya saja terkadang hal itu malah membuatku bingung. Apakah kesalahanku dapat dimaafkan dan dimengerti ? Ataukah aku yang tak mampu memahami sikapnya yang diam disaat aku berbuat kesalahan ?

Ia memang tak mampu mengungkapkan rasa amarahnya dengan kata-kata yang menyakitkan. Tak pernah sekalipun aku mendengar ia mengumpat, mengomel ataupun menghardik. Ini salah satu hal yang kadang membuatku serba salah. Disatu sisi, semua pasangan pastilah menghendaki hubungan yang adem ayem tanpa ada perselisihan. Namun di sisi lain aku juga merasa hubungan yang kujalani ini terasa hambar. Tak pernah ada suatu masalah yang terjadi di antara kami. Seringkali akulah yang mencari-cari kesalahan pada dirinya yang dapat kujadikan alasan buat kami untuk bertengkar.

Sesekali aku mengutak-atik isi ponselnya. Mencari kemungkinan kesalahan yang ada di dalamnya. Siapa tau saja disana ada nama-nama yang mencurigakan, atau sms-sms nakal yang tak kuinginkan. Pernah sekali waktu aku menemukan sms yang kuanggap mesra bila diucapkan seorang wanita kepada seorang pria. Hal itu kutanyakan padanya. Namun jawabannya biasa saja. Seorang teman katanya. Dan isi sms tersebut juga bukan untuk bermesra-mesraan tapi hanya untuk bergaul-ria.

Aku percaya padanya. Sama halnya ia percaya padaku. Menurutku, diriku dan dirinya berada pada jalur yang sama. Kami berusaha seiring sejalan. Bertindak sesuatu dengan memikirkan perasaan satu sama lain. Melakukan sesuatu untuk menyenangkan pasangan, dan sebaliknya tidak melakukan sesuatu yang sekiranya akan menyakiti pasangan.

Hal ini yang pada akhirnya selalu mengalahkan penat pada hubungan kami. Aku tak ingin mengalah pada rasa jenuh sesaat yang akan menghancurkan hubungan yang telah kami bangun selama tiga tahun ini.

Published in: on 9 Februari 2009 at 7:27 am  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://incredibleleven.wordpress.com/2009/02/09/break-a-while/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Jenuh pasti ada, mba… hanya saja apakah kita mau mengorbankan sesuatu yang berharga dengan sesuatu yang bernama “jenuh”?

    Atau mau menerima tantangan kehilangan? untuk menyadari bahwa sesuatu itu akan terasa berharga bila sudah tidak berada disisi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: