Rasa Syukur

Hai … lama gak ketemu nih, apa kabar ?” Seorang kawan lama menyapa hangat saat membukakan pintu rumahnya.

Aku mengunjungi seorang kawan lama di kediamannya. Kebetulan ia sudah berkeluarga sehingga tidak banyak waktu untuknya mengunjungiku. Hari-harinya disibukkan dengan kegiatan mengajar di salah satu sekolah dasar. Belum lagi kegiatan tambahan dengan mengambil kuliah malam. Dan juga kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak tentunya sangat menyita waktu.

syukur

Aku bertandang ke rumahnya untuk sekedar memberinya selamat atas kesuksesannya menyelesaikan gelar sarjananya dan tawaran melanjutkan gelar master di negeri kangguru. Benar-benar suatu kesuksesan yang membanggakan.

Kabar baik, tambah gemuk aja nih !” Kujawab sapaannya dengan sedikit menggoda postur tubuhnya yang sebenarnya tidak begitu gemuk untuk ukuran seorang ibu dengan dua anak.

Waduh, lama gak ketemu ya ? makin cantik aja nih. Pipi makin tembem, tapi kok badan ga berubah ya ? masih langsing aja kayak dulu“. Iapun menjahiliku dengan mengomentari postur tubuhku yang tidak banyak berubah, tetap kurus saja seperti masih kuliah dulu. Saat ini aku merasa bobot badanku agak bertambah, hanya saja tidak begitu nampak. Yang jelas terlihat adalah bentuk pipiku yang terlihat makin bulat saja.

Anak-anakmu kemana ? Kok tidak kelihatan ? Mereka pasti sudah besar“. Aku menanyakan keberadaan anaknya yang sejak tadi tak terlihat.

Oh, yang sulung ada di rumah mertua. Beliau yang bantu mengurusnya. Sedangkan yang bungsu sedang ada di kampung bersama neneknya. Maklumlah, belakangan ini aku sedang sibuk menyelesaikan skripsi dan persiapan ujian akhir. Jadi kutitipkan mereka untuk sementara“. Ia memberi penjelasan sambil sesekali tersenyum padaku. “Kamu sendiri bagaimana ? Pekerjaan lancar kan ? Ia balik bertanya.

Pekerjaanku baik-baik saja. Aku iri loh sama kamu. Gelar sarjana sudah nangkring di belakang nama, tawaran beasiswa menghampiri, punya keluarga, punya suami dan anak. Karir dan kehidupan kamu pasti akan bagus nantinya“. Aku memujinya dengan sungguh-sungguh merasa iri padanya.

Aku yang hanya lebih muda satu tahun darinya, masih merasa belum memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Awal aku bertemu dengannya, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Saat kami sama-sama beridentitaskan mahasiswa baru di kampus. Dan saat ini, semuanya berubah. Ia bagaikan berada beberapa anak tangga di atasku.

Yah, tak bisa kupungkiri bila melihat ke belakang, kuakui bahwa ia dulunya memang sangat agresif mengejar cita-cita bila dibandingkan denganku. Setelah lulus dari Diploma ia menikah. Ternyata pernikahan tak menghalangi langkahnya untuk terus maju. Ia melanjutkan kuliah disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Tak lupa pula ia mencari pengalaman dengan mengajar mata pelajaran bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar. Sungguh suatu hal yang bertolak belakang denganku.

Aku, setelah lulus dari Diploma, hanya disibukkan dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Alhamdulillah, setelah mendapatkan gelar Ahli Madya, aku tidak begitu kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Meskipun bidang pekerjaannya tak sesuai dengan latar belakang pendidikanku di kampus. Tapi aku patut bersyukur, karena ternyata Tuhan menyayangiku dengan tak membiarkanku nelangsa karena tak memiliki pekerjaan.

Setelah aku pikir-pikir,   Tuhan sangatlah adil. Ia memberikan nikmat sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Jika saja aku dihadapkan pada situasi yang dialami oleh kawanku, mungkin saja aku tak dapat membagi waktu dengan baik. Aku bukan tipe orang yang dapat membagi waktu sesuai dengan porsinya. Jika aku ngantuk, aku akan tidur sepuasnya. Jika aku ingin bersantai di rumah, aku akan mendekam di rumah sepuasnya. Tak dapat kubayangkan jika saja aku sesibuk kawanku tadi. Pastilah ada salah satu bagian yang keteteran. Mungkin saja kuliahku, mungkin juga pekerjaanku, atau mungkin pula keluarga kecilku. Tak bisa kubayangkan bagaimana repotnya diriku ini.

Aku benar-benar patut bersyukur. Di usiaku saat ini, aku belum perlu direpotkan dengan segala macam persoalan rumah tangga. Aku hanya perlu konsentrasi pada pekerjaanku, keluarga besarku, dan kehidupan pribadiku. Aku tak perlu memikirkan hal lain selain itu. Memang egois kedengarannya. Tapi semua itu kuanggap wajar saja. Mumpung aku masih sendiri, belum berkeluarga. Jadi otakku belum perlu berpikir secara kompleks.

Published in: on 23 Januari 2009 at 4:20 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://incredibleleven.wordpress.com/2009/01/23/rasa-syukur/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: