Kapan ???

marriageNak, tadi pagi ayah kamu meminta ibu menanyakan sesuatu padamu“. Ibu menghampiriku yang sedang istirahat di kamar.

Menanyakan apa bu ?” Aku bertanya dengan raut muka penasaran.

Begini loh, sebenarnya ayah kamu hanya ingin menanyakan hubungan kamu dengan ‘ *** ‘. Sejauh mana hubungan kalian ? Apakah ia serius akan menikahimu nantinya ? Ayah kamu khawatir terhadap hubungan kalian yang seperti tidak ada ujungnya. Kalian pacaran sudah lama kan ?” Ibu menjelaskan maksud ayah dengan hati-hati, takut aku menanggapinya dengan persepsi yang berbeda.

Ia serius, bu. Dulu ia sempat berkata akan melamar, hanya saja situasinya belum memungkinkan. Sebelum kakak tertuanya menikah, ia tidak ingin mendahuluinya. Untuk itu ia menunggu kakaknya menikah lebih dulu, baru kami yang akan maju. Setelah kakaknya menikah, kebetulan adiknya yang berikutnya lebih dulu dilamar. Jadi mau tidak mau, keinginan kami untuk menikah tertunda. Sekarang, menurut saya tidak ada halangan yang berarti buat kami untuk menikah. Hanya saja, sampai saat ini belum pernah ada pembicaraan ke arah itu. Saya juga tidak berani menanyakannya. Saya takut ia merasa ditodong untuk segera menikahi saya. Saya tidak mau ia merasa seperti itu, bu“.

Aku berusaha menjelaskan situasi yang terjadi dalam hubungan percintaanku pada ibu. Ibu terlihat mengerti posisiku.

Kalau saja ibu tahu isi hatiku yang sebenarnya. Aku juga merasakan kekhawatiran yang sama. Aku juga khawatir hubunganku dengannya tidak akan ada ujungnya. Di lubuk hatiku yang paling dalam, akupun memiliki pertanyaan yang sama, apakah benar ia serius akan menikahiku ? Tentunya aku tak akan menemukan jawabnya bila tak kusuguhkan pertanyaan itu padanya.

Tapi aku tak punya nyali untuk menanyakannya. Apakah etis buatku untuk menanyakan langsung padanya ?

Kapan kita akan menikah ? Apakah kamu akan melamarku ? Ayahku menunggumu untuk melamarku. Aku sudah tidak muda lagi. Usiaku sudah hampir kepala tiga. Apakah kamu akan melamarku saat aku sudah nenek-nenek ?  Ugh ! Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa terlintas di benakku saja tanpa pernah bisa kuungkapkan.

Atau … mungkin ada suatu cara manis untuk mengungkapkan rasa dan menyelipkan tanya tanpa membuatnya merasa aku menanyakan hal itu. Ya, pasti ada.

Hanya saja aku tidak tahu caranya. Mungkin aku butuh bantuan seseorang untuk menanyakannya untukku, tanpa membuatnya tersadar bahwa pertanyaan itu berasal dariku.

Tapi ia sendiri juga sudah sering mendapatkan pertanyaan itu dari orang lain. Pertanyaan dari kawan yang seperti : Hei, makin serasi aja nih, kapan diresmikannya ?. Di saat menghadiri pesta pernikahan kawan, Kalian kapan nyusul nih ?. Ketemu atasanku saat ia menjemput di kantor, “Kalian kapan rencananya ? Biar bisa acara makan-makan lagi“.

Semua pertanyaan itu hanya ia jawab “Tunggu aja tanggal mainnya“, atau “Tunggu saja undangannya“, atau “Doakan saja semoga bisa cepat“, sambil ia senyum-senyum simpul.

Yah … itu sih bukan jawaban yang kudambakan.

Di saat awal-awal pacaran, pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban seperti itu masih merupakan embun di pagi hari. Memberikan kesegaran yang menambah semangat untuk tetap mempertahankan hubungan dengan penuh harapan. Tapi untuk saat ini, pertanyaan dan jawaban itu bagiku layaknya api unggun yang bila hanya sesaat kita berada di dekatnya akan terasa hangat, namun bila terlalu lama akan terasa membakar. Membakar lubuk hati, sehingga menginginkan jangan ada pertanyaan seperti itu lagi. Aku hanya dapat menjawab “Hanya Tuhan yang tahu“.

Hingga saat ini pertanyaan itu masih tetap tersimpan di ujung bibirku tanpa sanggup kututurkan.

Published in: on 23 Januari 2009 at 5:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://incredibleleven.wordpress.com/2009/01/23/kapan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: