Hari ini aku sebeeel banget. Gimana enggak, orang lain yang makan nangka, aku yang kena getahnya. 
Mulanya aku mendapat tugas penanggung jawab arisan. Nah, ada salah satu anggota arisan yang akan pulang ke kampung halamannya dan enggak balik lagi. Kebetulan orang ini namanya sudah keluar, alias sudah terima duit arisan di periode kesekian. Nah, berhubung dia bakalan sulit dihubungi untuk pembayaran arisan yang selanjutnya, maka ia menitipkan sejumlah uang sebagai angsuran pembayaran padaku.
Awalnya aku berniat membagikan uang tersebut kepada anggota arisan lain yang namanya belum keluar. Hanya saja ada salah satu anggota yang bermaksud meminjam dan berjanji mengembalikannya dengan dicicil setiap bulan bersamaan dengan pembayaran arisannya.
Sebenarnya sih aku rada nggak percaya sama orang ini. Soalnya dia ada sejarah keuangan yang kebiasaannya gali lobang tutup lobang. Sebenarnya aku nggak ikhlas memberikan uang tersebut. Tapi karena ada perasaan nggak enak kalo nolak, makanya uang tersebut kuberikan. Tapi dengan satu syarat, ia benar-benar harus membayar sesuai dengan kewajiban arisan dia sendiri plus kewajiban pinjamannya.
Nah, setelah bulan keempat, orang ini nggak memperlihatkan batang hidungnya. Sehari sebelum acara arisan sudah aku hubungi. Katanya akan datang untuk bayar angsurannya. Tapi tunggu punya ditunggu, ternyata nggak nongol-nongol juga. Telepon nggak aktif, kalo aktif nggak diangkat. Nyebelin nggak sih ? Lebih sebal lagi karena tanggung jawabnya itu aku yang harus menanggung.
Hiks, pengen nangis rasanya saat dimintai pertanggung jawaban. Duitnya sih nggak seberapa. Saya bisa nalanginnya. Cuma masalahnya rasa kesal dan sakit hati karena kepercayaan yang kuberikan telah diingkari. Belum lagi sepertinya nggak ada niat baik untuk menyelesaikan permasalahan. Didatangin rumahnya, juga gak ada. Telepon, baik yang CDMA maupun yang GSM sama-sama gak aktif. Kalaupun aktif, telepon nggak diangkat, SMS-pun nggak dibalas.
Saya bisa ngerti kalau setiap orang pasti punya masalah, apalagi masalah kesulitan keuangan. Tiap orang pasti pernah punya masalah seperti itu. Tapi setidaknya dia harus menunjukkan itikad baik dengan sekedar mengkonfirmasi bagaimana penyelesaiannya.
Gitu deh, hari ini dapat pelajaran berharga. Setiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya. Mudah-mudahan dengan adanya kejadian ini, di masa depan urusanku bisa selalu dimudahkan, dan rejekiku dilonggarkan. Amin



Saya pribadi menyukai kemeriahan perayaan Imlek. Rasanya senang melihat ornamen-ornamen khas Imlek dan segala pernak perniknya yang berwarna merah. Bagi warga keturunan Tionghoa, warna merah merupakan warna yang menandakan kebahagiaan. Diharapkan di tahun yang baru akan membawa kebahagiaan.

“Nak, tadi pagi ayah kamu meminta ibu menanyakan sesuatu padamu“. Ibu menghampiriku yang sedang istirahat di kamar.

