Deadline

Bagiku umur bukan alasan utama untuk segera melangsungkan pernikahan. Namun tak dapat dipungkiri bahwa umurlah yang mendorong setiap orang untuk segera menikah. Di saat umur telah mencapai usia dewasa, mau tak mau seseorang pasti secara tak sadar akan memikirkan pernikahan.

Dari pemikiran itu pulalah timbul usaha untuk mewujudkannya. Berawal dengan perkenalan dengan seseorang yang tampak menarik, hingga upaya dalam pencarian cinta sejati. Ada yang dapat mewujudkan pernikahannya dalam waktu singkat, ada pula yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat memutuskan naik ke pelaminan.

For me, it nees years. It’s 2010, and I still don’t know when I will arrange a wedding with him. I’m entering the deep down side of my desperation. Kali ini mesti, harus dan wajib untuk memberinya deadline. Sebagai wanita sesekali kita harus lebih tegas untuk menentukan arah hubungan yang sepertinya sudah tak tentu arah macam ini.

Diterbitkan di:  on 6 Februari 2010 at 7:16 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Ditelan Bumi

Mungkin ada baiknya jika untuk sementara waktu aku tertelan bumi. Sehingga tak tampak dan tak kasat mata. Tak perlu berbasa basi bermuka manis, padahal hati sedang mendongkol. Tak perlu menjawab pertanyaan basi yang jawabannya benar-benar sudah basi. Tak perlu melakukan sesuatu yang bagiku terlihat tak akan ada gunanya. Sementara waktu, sekedar memberi sedikit ruang untukku berbagi dengan diriku sendiri.

Diterbitkan di:  on 5 Februari 2010 at 9:37 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Tak Mudah

Meredam amarah tak semudah yang aku bayangkan. Seringkali emosi memuncak saat tak kusadari bahwa emosi sedang meluap. Aku baru menyadari hal itu disaat semuanya hampir terlambat. Emosi tak terkendali, kata-kata meluncur tanpa sempat teredit, nada suara diatas sewajarnya, bahkan wajah memanas seolah-olah akan terbakar.

It happen to me all the time. Di saat hal itu terjadi, seringkali ada orang lain yang terluka diakibatkan kata yang tak sepantasnya diucapkan. Ada rasa sedih disebabkan nada suara yang jauh melompat beberapa oktaf.

Aku tahu disaat semuanya terlanjur terjadi hanya kata maaf yang dapat mencairkan ketegangan. Maaf yang tulus dari lubuk hati sepatutnya mampu melegakan sesak di dada. Namun hal itu sungguh sulit dilakukan bila emosi dan ego masih betah bertengger di kepala. Meski kutau itulah satu-satunya penawar ketegangan. Namun jika hati masih panas, butuh beberapa saat, bahkan mungkin beberapa hari untuk melenyapkannya.

Diterbitkan di:  on 18 Januari 2010 at 5:27 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Hargai Orang Lain yang Datang Tepat Waktu

Hatiku kesal bukan main. Sewajarnyalah aku mengeluh jika ada karyawan yang datang terlambat. Sebab aku yang setiap pagi harus berjuang melawan rasa malas dan rasa kantuk, bersikeras menerjang cuaca yang kurang bersahabat, dan berusaha menerobos macetnya kota Makassar di pagi hari hanya agar dapat tiba di kantor tepat waktu.

Aku bukan mereka yang lebih senang datang terlambat dengan berbagai alasan. Semalam tidurnya telat, bangun juga telat, pagi-pagi harus mengantar ibu, ada jadwal mengaji di pagi hari, belum sempat mandi, dan bla bla bla seribu macam alasan. That’s okay jika kalian berani jujur datang terlambat dengan daftar absen yang terlambat pula. Tapi bagaimana jika kalian curang ? Berlaku curang dengan memanipulasi data di daftar absensi sama halnya bahwa kalian tidak menghargai karyawan lain yang telah susah payah tiba di kantor tepat waktu.

Aku bukan tipe orang yang menghargai waktu. Tapi untuk datang tepat waktu, itu sudah menjadi keharusan. Aku membiasakan diri datang lebih awal bukan karena aku diberi tanggung jawab untuk memegang kunci pintu di kantor. Melainkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan berusaha menghargai orang lain yang juga terbiasa datang lebih awal.

Diterbitkan di:  on 13 Januari 2010 at 8:28 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Birthday Present

I bought this keyboard for him as his birthday present. It’s a Logitech Media Keyboard. I hope he likes it. Memang bukan sebuah kado yang mewah, tapi dibalik ketulusan memberikannya kuharap sebuah keikhlasan sang penerima untuk memanfaatkannya.



Diterbitkan di:  on 11 Januari 2010 at 6:10 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Inci si Kelinci

2 bulan yang lalu aku membeli seekor kelinci jantan. Diberi nama Inci dari dasar kata Kelinci. Umurnya kira-kira baru sebulan. Mukanya lucu sekali. Warna bulunya putih abu-abu. Yang membuatku falling in love at first sight itu karena telinganya. Telinga kiri warna putih, telinga kanan abu-abu.

Awalnya mau beli sepasang, jantan dan betina. Berharap suatu saat nanti ia bisa berkembang biak. Tapi berhubung baru pertama kali ini coba memelihara kelinci, jadinya cuma membeli satu ekor dulu. Takut nanti kelincinya tak terawat dengan baik. Kasihan kan kalau baru dirawat seminggu lantas mati. Masalahnya kelinci itu hewan yang sangat sensitif. Mudah stres dan masuk angin. Untuk itu butuh perhatian ekstra untuk dapat menjadikannya hewan peliharaan.

Benar-benar beruntung karena kelinci satu ini tidak rewel. Selalu sehat, nafsu makannya juga sangat besar. Bahkan bisa dikatakan rakus. Makannya tak pernah berhenti. Sampai-sampai tetangga depan rumah yang ikut-ikutan memelihara kelinci berpikir bahwa si kelinci diberi vitamin penambah nafsu makan.

Tapi itulah sifat dasar kelinci. Doyan makan. Makanya cepat gendut. :) Syukur alhamdulillah jika kelinciku rakus. Itu artinya dia sehat. Tapi konsekuensinya adalah buang airnya itu. Pipisnya bisa sampai 3 kali sekali pipis. Itupun pipisnya tiap sejam sekali. Jika mau pipis, si kelinci berputar-putar dulu di pinggir keranjangnya sambil menyudutkan bokong. Mencari posisi yang pas dulu kali ya. Setelah pipis pertama, si kelinci akan memutar bokongnya lagi ke sisi lain lalu pipis, setelah pipis kedua, ia memutar bokongnya lalu pipis lagi. Tingkahnya lucu sekali.

Bahagia rasanya jika melihat si kelinci berlarian kesana kemari, berloncat-loncatan dan berdiri dengan dua kaki belakangnya. Jika minta makan, dia akan berdiri menggapai-gapai seseorang di dekatnya yang sedang duduk atau memegang sesuatu. Jika ada yang sedang menelepon, si kelinci juga ikut mencari perhatian dengan memanjat dan duduk di pangkuan. Semua tingkah dan kelucuannya selalu saja membawa kehangatan di dalam rumah.


Diterbitkan di:  on 6 Januari 2010 at 9:00 pm Tinggalkan sebuah Komentar

I’m Not Facebook Addicted

Yes … I’m not a facebook addicted. Di saat orang-orang sibuk ngomongin jumlah teman di account facebooknya, aku dengan santai dan gak peduli malah ngomongin jumlah floating loss di account masterforex-ku. Di saat teman-teman bertanya alamat facebook, aku dengan bloon, ngomong kalo nggak punya alamat facebook. Keliatan deh tuh mukanya berkerut seakan berkata “Hare gene, gak punya facebook ? Helloooo, dari mana aja lo ?”

Gak nyalahin mereka sih. Facebook dan semacamnya emang lagi trend. Kalo mau dibilang gaul, mesti dan wajib punya facebook. Tapi aku emang buka tipe orang yang suka ikut-ikutan. Orang lain punya ini, belum tentu aku harus punya. Orang lain pake ini, belum tentu aku bakalan pake juga. Orang lain beli ini, belum tentu aku mesti beli juga kan ?

Sampai detik kemarin aku masih keukeh gak mau buka account facebook. Tapi setelah nonton Oprah sabtu kemarin, pertahananku luntur. Jadi pengen punya account facebook juga. Soalnya Oprah juga punya facebook. Kayaknya asik kalo bisa update The Oprah Show kapan aja. That’s because I love Oprah winfrey and her show.

So guys, would you please help me answer this question.

Should I have a facebook account ???

Diterbitkan di:  on 5 Januari 2010 at 10:41 pm Komentar (1)

Wasn’t The Time

Kali ini tak ada semangat lagi untuk memikirkan pernikahan. Tes CPNS kali ini tak berhasil … again. Padahal itu satu-satunya sinyal positif untuk maju selangkah lagi ke arah pernikahan. But … what can I say ? Maybe this year wasn’t the time.

Diterbitkan di:  on 29 Desember 2009 at 7:13 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Poor Me

Time passed away. One of my friend just got married days ago. They planned a wedding party next January. Of course I’m happy for them. But I can’t deny that I’m sad at the same time. When will my turn ?

I hate having this feeling. I always feel happy for someone who able to make their dream come true, but at the same time I looked into myself. When will I have my dream ? Will it be just only my dream, and will never come true ?

How can I convince my self not to give my dream up ? I think I’m going to be crazy always think and talk about this topic. And being more crazy just think and talk by my self. Poor me …  :(

Diterbitkan di:  on 21 Desember 2009 at 6:17 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Nunggu Kamu … Siapa takut ??

Menunggu itu tak sepenuhnya meletihkan. Aku percaya akan hal itu. Sebab itu aku tak merasa berat menunggu hingga waktu yang benar-benar indah itu tiba. Kau tak perlu kuatir aku akan merasa lelah ataupun bosan. Mau minta aku menunggu hingga berapa lama, kau tak perlu menyebutkannya. Toh tanpa kau mintapun, aku telah melakukannya. Menunggumu takkan membuatku kehabisan waktu.

Diterbitkan di:  on 4 Desember 2009 at 8:20 pm Tinggalkan sebuah Komentar